Pulau Run pernah menjadi primadona pada masanya. Pulau Run bahkan pernah ditukar dengan Manhattan. Apa pasal Pulau Run menjadi primadona? Kala itu Pulau Run merupakan tempat penghasil rempah-rempah.

Rempah-rempah kala itu menjadi rebutan dan menjadi komoditas utama perniagaan dunia. Selain mengawetkan bahan makanan, orang-orang Eropa menggunakan rempah-rempah untuk obat berbagai penyakit.

View of Cityscape

Namun, seiring dengan revolusi industri, serta adanya barang substitusi, maka pesona rempah-rempah pun perlahan memudar. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pun putar haluan.

Ketika harga rempah-rempah turun dan tak jadi komoditas primadona lagi, VOC bertahan melakukan perdagangan, VOC kemudian memperdagangkan berbagai komoditas. Menurut sejarawan Mona Lohanda, dalam kargo-kargonya VOC mengangkut dan menjual ragam komoditas khas negeri tropis, seperti ayam, beras, kuda, bahkan budak.

Analogi Pulau Run, rempah-rempah, tersebut mungkin relevan ketika melihat kompetensi yang kita miliki dan kebutuhan zaman. Akankah kompetensi kita sudah tidak dibutuhkan lagi di masa mendatang? Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, mengindikasikan meluruhnya sejumlah kompetensi serta profesi.

Maka agar relevan dengan zaman, perlu kiranya bagi kita untuk melihat atau melakukan prediksi masa depan. Senantiasa belajar agar kompetensi yang kita punyai relevan dengan zaman. Prediksi masa depan juga memungkinkan kita untuk siap, ketika era itu tiba. 

Lihat profil
Arifin

43 artikel di Tajria.