Sebelum menikah, saya membayangkan ketika punya anak, anak saya akan bahagia sekali ketika dibelikan banyak mainan. Namun kini setelah memiliki anak, pikiran itu pun perlahan memudar. 

Saya sering mengamati anak saya lebih tertarik dengan barang-barang yang ada di rumah daripada mainan yang disodorkan. Anak saya lebih tertarik dengan remote tv, tissue, panci, ember, sisir dan barang lainnya dibandingkan dengan mobil-mobilan, puzzle, lego, dan sebagainya. Alhasil saya selalu mengurungkan niat untuk sering membelikan mainan.

Adorable little boy and girl playing with toy train

Dari artikel dan kelas parenting online yang saya ikuti, ternyata membelikan banyak mainan kepada anak juga memiliki dampak buruk. Menurut Shelley Lindauer, PhD. anak menjadi kewalahan apabila disodrokan dengan banyak mainan. Anak menjadi cenderung kurang fokus apabila sedang bermain karena sangking banyaknya mainan. Selain itu anak juga jadi kurang belajar menghargai mainan-mainan yang dimilikinya.

Anak dengan mainan yang lebih sedikit, akan lebih tertantang kreatifitasnya untuk memainkan mainan tersebut dalam beberapa versi. Anak juga jadi lebih fokus ketika bermain. Dengan mempertimbangkan hal-hal tadi, akhirnya saya memutuskan untuk lebih bijak dalam membelikan mainan. 

Sumber: The Asian Parents