Ada banyak cara untuk melakukan edukasi, salah satunya melalui tontonan. Semenjak memiliki anak, saya pun mulai telaten menonton serial Upin & Ipin. Anak saya yang kini berusia 20 bulan terhibur, pun begitu dengan saya.

Kisah si kembar tersebut tak sekadar menghibur, melainkan juga memiliki banyak muatan pendidikan yang dikemas dengan menarik. Saya pun merasa terhubung dengan sejumlah konsep pendidikan yang saya pelajari ketika menonton serial Upin & Ipin.

Sebut saja tentang gerakan literasi, satuan pendidikan aman bencana, budaya pantun, penampilan seni peserta didik (student centered), dan lain sebagainya. Alangkah gembiranya perasaan saya mendapatkan begitu berbobot konten edukasi di serial Upin & Ipin. Yang hebat lagi betapa smooth pesan-pesan itu teramplifikasi.

Tentu bukan hal mudah untuk mengemas konten berbobot tersebut. Bagaimana story telling yang dipadukan dengan petuah serta canda. Serial Upin & Ipin mampu menembus lintas generasi dikarenakan bahasanya yang simpel, tapi langsung ke pokok-pokok perkara.

Secara karakter penokohan juga begitu kuat. Ada Jarjit yang piawai dengan pantunnya. Seperti diketahui, UNESCO menilai Pantun memiliki arti penting bagi masyarakat Melayu bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial namun juga kaya akan nilai-nilai yang menjadi panduan moral. Pantun adalah bentuk syair Melayu yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan emosi yang di dalamnya terdapat seni penyampaian metaforis menggunakan bahasa halus dan sopan. Yups dari sosok Jarjit saja sebagai contoh, aneka konten edukasi mengalun dan mengalir dengan apik.

Lalu ada juga Susanti, yang dapat memperlihatkan relasi antara Malaysia dan Indonesia. Dua negara serumpun yang dijahit dalam kohesi persahabatan dalam serial Upin & Ipin.

Dan tentu saja Upin, Ipin, yang memiliki rasa ingin tahu, semangat persahabatan. Kita dibawa pada project-based learning manakala adik kakak ini tampil.

Salut untuk serial Upin & Ipin yang merupakan tontonan yang menjadi tuntunan.

Lihat profil
Arifin

43 artikel di Tajria.