Makanan adalah produk budaya yang mudah diadopsi, dimodifikasi, dan diduplikasi oleh siapa pun. Jejak kuliner menunjukkan adanya sejarah serta silang budaya, untuk masa depan, kemungkinan variasi kuliner pun dapat terus berkembang.

Dikenal istilah sharing cuisine, berbagi cita rasa, lewat interaksi budaya.

Flat Lay Photo of Katsu, Tea Set, and Bowl of Ramen

Bagi perantau, atau pun pembawa awal semula kuliner tersebut, maka mau tak mau, bahan-bahan makanannya harus mengalami percampuran dengan bahan-bahan setempat. Di Indonesia, misalnya dengan bergabungnya bahan-bahan khas Nusantara seperti ketumbar, cengkih, kayu manis, salam koja, mentimun, dan bawang merah.

Adapun contoh sharing cuisine dapat dilihat pada menu kuliner yang cukup digemari di Indonesia, nasi kebuli. Cita rasa Timur Tengah dipadukan dengan selera lokal. Unsur-unsur makanan lokal seperti bawang merah, bawang putih, mentimun, nanas, bengkoang, pun menjadi contoh nyata adaptasi rasa tersebut.

Masih setali tiga uang dengan konsep di atas, para perantau Tionghoa yang pergi ke negeri selatan kudu beradaptasi dengan bahan makanan yang ada, sehingga memunculkan kreasi baru.

Para perantau itu pun membuat tahu, kembang tahu, mie, bihun, soun, tauco, kecap seraya memanfaatkan bahan-bahan setempat.

 

Sumber: Historia

Lihat profil
Arifin

94 artikel di Tajria.