Tingkat bunuh diri di Jepang meningkat selama gelombang kedua virus Corona (Covid-19). Kenaikan tingkat bunuh diri di Negeri Sakura terjadi di kalangan perempuan dan anak-anak. Menurut hasil penelitian pada rentang Juli sampai Oktober 2020, tingkat bunuh diri di Jepang naik 16 persen.

Sementara itu kondisi psikososial pelajar selama masa pandemi juga harus diperhatikan. Bagaimana dampak dari pembatasan sosial, bagi beberapa anak dapat mengganggu kesehatan mentalnya.

Person On a Window of an Apartment Building

Sejumlah fakta di atas menandaskan perlunya untuk menjaga kesehatan mental di masa pandemi. Dikarenakan kekuatan hantaman pagebluk Covid-19 terhadap setiap orang tak pernah setara.

Kelindan dari Corona yang menyentuh aspek ekonomi dan sosial, dapat berimbas pada kesehatan mental. Ambil contoh bagi mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), maka tak sekadar sumber ekonominya yang terenggut, kesehatan mentalnya pun dapat tergerogoti.

Lantas bagaimanakah tips untuk peduli terhadap kesehatan mental pada masa pandemi? Menerima kenyataan bahwa Covid-19 benar terjadi merupakan awalan. Kita harus bersabar, menerima hal tersebut. Dengan begitu ada perasaan lebih tenang.

Lalu setelah menerima, siapkan diri untuk melakoni sejumlah adaptasi kebiasaan baru. 3M menjadi menu wajib. 3M itu yakni Menggunakan masker, Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, Menjaga jarak. Sadari bahwa 3M tersebut perlu dilakoni untuk diri, keluarga, untuk negeri, untuk dunia.

Lalu tunjukkan semangat gotong royong, saling membantu dalam berbagai aspek. Bisa lewat tindakan, kata-kata, dan sebagainya. Syukuri apa yang kita punya, tengok mereka yang terdampak lebih dalam karena pandemi.

You will never walk alone. Mari bahu membahu peduli terhadap kesehatan mental sendiri dan sesama.

Lihat profil
Arifin

94 artikel di Tajria.