Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) membawa kita pada sejumlah adaptasi kebiasaan baru. Termasuk dalam hal bekerja. Dikarenakan penyakit Corona secara simplifikasi disebut sebagai penyakit kerumunan, maka sejumlah kerumunan pun dikurangi.

Di Indonesia misalnya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Pulau Jawa dan Bali salah satu poinnya adalah 75% pekerja work from home (WFH), sisanya 25% pekerja dapat bekerja di kantor.

Focused mother working on laptop near disturbing daughter

Tentu ada sensasi dan penyesuaian tertentu ketika bekerja dari rumah. Di antaranya sentuhan empati ataupun obrolan ringan. Ketika berada di kantor, saya dapat meminta, mengedit sesuatu, sembari bercanda dengan gestur tatap muka. Ketika bekerja jarak jauh, bisa terjadi kekeliruan komunikasi, kesalahan tafsir.

Namun, jika merujuk ke poin kesehatan dan keselamatan, maka WFH lebih relevan diterapkan di masa pagebluk ini.

Lantas apa saja yang perlu digarisbawahi terkait WFH ini? WFH juga penting untuk memperhatikan waktu. Ingat segala sesuatu ada porsinya. Tidak melulu terkait pekerjaan. Anda juga perlu adil untuk melakukan me time, mengalokasikan waktu untuk keluarga, dan lain-lain.

WFH juga berarti Anda harus mempersiapkan tempat kerja yang enak. Perhatikan posisi duduk, meja, pencahayaan. Anda tentu tidak ingin terkena penyakit yang berhulu dari WFH. Jangan lupa untuk berjalan-jalan serta lakukan olahraga juga ya selama WFH.

Bagi yang sudah berkeluarga, WFH memberikan dinamika tersendiri. Mungkin anak Anda juga belajar dari rumah, sehingga diperlukan pendampingan tertentu. Mungkin pasangan hidup Anda meminta untuk melakukan sejumlah perbaikan di rumah. Komunikasikan dengan keluarga, dan mari cari solusi untuk perkara rumah tangga beres, pekerjaan beres.

Kolaborasi dengan rekan-rekan juga penting bagi suksesnya WFH. Sepakati mengenai aturan WFH. Masukkan rumus empati dalam berkomunikasi agar tidak terjadi salah paham.

Selamat work from home (WFH). Selamat berkarya.

Lihat profil
Arifin

117 artikel di Tajria.