Dalam beberapa hari terakhir ini saya memakai smartwatch. Salah satu fitur dari smartwatch yakni berapa banyak langkah yang ditempuh dalam sehari. Data kuantitatif tersebut memicu dan memacu untuk memenuhi target minimal 10.000 langkah/hari.

Ternyata smartwatch begitu membantu untuk mewartakan secara real time sudah berapa langkah yang ditempuh. Jika masih begitu sedikit langkah yang ditempuh, saya pun mengambil tempo untuk berjalan.

Crop woman using devices for pulse controlling

Begitulah manusia, kadang dibutuhkan pemantauan, modifikasi pikiran, pengingat, untuk berada dalam jalur yang benar untuk kebaikannya.

Melacak ke ingatan, era masih sekolah, sejumlah ujian, asesmen yang dilakukan sesungguhnya merupakan umpan balik. Umpan balik, sudah sejauh mana pemahaman terhadap mata pelajaran, ataupun rentang jarak nilai dengan sekolah atau kampus yang diidamkan.

Data kuantitatif membantu untuk fokus. Ada target tertentu yang ingin dicapai dan digapai. Maka waktu dalam sehari, seminggu, sebulan, dan sebagainya pun dapat di-setting untuk berfokus pada target tertentu.

Data kuantitatif juga dapat membuat Anda menjadi lebih presisi. Misalnya ketika sedang memasak. Simaklah resep-resep masakan, dimana takaran menjadi salah satu elemen penting bagi terciptanya hidangan lezat.

Contoh lainnya terkait data kuantitatif dan presisi, bisa dilihat pada atlet. Pada pemain sepak bola dapat diukur VO2 max, hal tersebut berkorelasi dengan stamina. Terdapat standar bahwa pemain profesional harus memiliki VO2 max yang baik. Dikarenakan stamina berdampak sistemik. Ketika stamina sudah drop, maka akurasi umpan, kesalahan, ketepatan tendangan, merupakan sejumlah faktor turunannya.

Data kuantitatif juga membantu Anda untuk teratur. Dalam keseharian, Anda tentu mempunyai waktu-waktu tertentu untuk melakukan sesuatu. Dari terkait makanan, istirahat, bersosialisasi, dan sebagainya.

Lihat profil
Arifin

98 artikel di Tajria.