Apakah segala pelajaran di bangku sekolah, masih dapat kita terapkan di dunia kerja? Tentu saja. Tak sekadar secara konten, namun sejumlah nilai-nilai yang melekat, yang mungkin tanpa sadari kita pelajari.

Di antaranya yakni mencari mentor yang tepat. Ketika dulu di bangku sekolah, saya mengingat di beberapa subyek pelajaran, saya berusaha mencari mentor. Mentor itu dapat berupa teman sebaya ataupun guru.

Senior gray haired bearded male coach presenting ideas at diverse group meeting in modern office

Dengan mentor, ragam tantangan baik secara pemahaman ataupun pemecahan soal, dapat terlihat titik cerahnya.

Dalam dunia kerja, hal setipe pun dapat terjadi. Konten memang bisa didapatkan dimana saja. Baik itu dari buku, video YouTube yang pembicaranya merupakan ahli yang kita sasar. Namun, tetap saja ada pedagogi, pembelajaran yang dapat lebih kontekstual manakala kita memiliki mentor.

Memiliki mentor secara langsung kita akan dibimbing, diberikan saran atas langkah-langkah yang kita ambil berdasarkan pengalaman yang mereka punya.

Memiliki mentor, bukan berarti bak kerbau dicocok hidungnya. Memiliki mentor memungkinkan kita untuk memiliki partner debat dan berdiskusi. Yups, berdebat secara sehat, mengenai isu tertentu atau gagasan.

Poin berikutnya, yakni carilah sobat-sobat yang memiliki mimpi. Ketika di high school dahulu, saya memutuskan untuk duduk di deretan bangku depan. Ternyata itu memengaruhi dan dipengaruhi. Lingkar dekat persahabatan saya, tektokan obrolan, memiliki muatan yang positif. Kami sama-sama memiliki mimpi untuk menempuh universitas favorit. Kami sama-sama bersemangat untuk belajar.

Di dalam dunia kerja pun, circle yang memiliki visi akan membantu Anda. Itu memengaruhi dan dipengaruhi. Sebagai individu dan makhluk sosial, Anda memerlukan penguatan, jejaring. Maka bergabunglah dalam lingkaran-lingkaran persahabatan yang kiranya akan membantu Anda untuk menemukan versi lebih baik dari diri.

 

Sumber: YouTube Raditya Dika

Lihat profil
Arifin

117 artikel di Tajria.