Ada begitu banyak pengetahuan yang kita ketahui. Ada ragam perbuatan baik yang kita ketahui. Namun, adakah ragam perbuatan baik itu kita lakoni? Antara tahu dan mau ternyata bisa memiliki jarak.

Ambil contoh, kita mengetahui untuk kesehatan, disarankan agar melangkah minimal 10.000 langkah/hari, telahkah kita melakukannya? Ragam alasan, dalih pun bisa diapungkan. Padahal tindakan baik dapat berimbas positif pada diri sendiri.

Photo of a Woman Standing on a Pile of Garbage Near Trees

Ambil contoh, kita mengetahui lamanya sampah plastik terurai di alam. Dari mading di Jakarta Aquarium & Safari terdapat data berikut mengenai berapa lama sampah terurai di alam:

>> Botol plastik: 100-1.000 tahun

>> Plastik: 100-1.000 tahun

>> Tas plastik: 450 tahun

>> Tali plastik: 600 tahun

>> Kemasan plastik: 5-10 tahun

Lantas, katakanlah ketika kita telah mengetahui secara presisi tentang lamanya sampah plastik terurai di alam, akankah kita mau untuk mengurangi segala hal yang terkait plastik dalam hidup kita?

Karsa, kehendak, untuk menjalankan apa yang diketahui menjadi mau mengerjakannya, bisa terjadi ketika kita mendapatkan pengalaman yang menyeluruh. Bisa dikarenakan panca indra kita merasakan getaran dan kesadaran. Maka pengalaman melihat, mendengar, merasakan, bisa menjadi dorongan untuk melakukan apa yang diketahui.

Itulah kiranya dalam pembelajaran perlu keterlibatan. Dalam artian, kita tak sekadar menjadi kolektor pengetahuan, pengingat fakta dan data saja.

Mari menjadi sosok penggerak, yang melakukan hal-hal kebaikan yang kita ketahui.

Lihat profil
Arifin

94 artikel di Tajria.