Salah satu keahlian, kompetensi yang dibutuhkan manusia adalah kemampuan untuk berkolaborasi. Berkolaborasi dapat memperbesar skala dampak, memperluas skala pengimbasan. Tentu saja dalam kolaborasi ini dibutuhkan sejumlah sikap. Di antaranya kemampuan berkomunikasi, kemampuan melihat masalah dan solusi dalam berbagai sudut pandang, siap untuk senantiasa musyawarah mufakat.

Meski kolaborasi merupakan keniscayaan, sama seperti keahlian, kompetensi, hal tersebut bisa diasah dan dilatih sejak dini. Hambatan bagi terjadinya kolaborasi di antaranya mispersepsi. Mungkin saja seseorang karena pengasuhan di keluarga, persaingan di sekolah, membuat dirinya menjadi egois dan terbiasa sendiri untuk menyelesaikan segala masalah.

Group of People Sitting Indoors

Oleh karena itu dalam parenting serta pembelajaran di sekolah, kolaborasi perlu terus diupayakan. Di rumah misalnya, bagaimana orang tua dan anak menyiapkan arisan keluarga besar. Libatkan anak, misalnya terkait menu makanan-minuman yang disajikan. Sehingga “tim keluarga” berusaha merampungkan “proyek arisan” dengan baik.

Di sekolah, bisa dengan project-based learning. Bagaimana kerja kelompok ini memungkinkan anak untuk mengomunikasikan ide, bersosialisasi, musyawarah mufakat, siap berbeda pendapat serta berkonflik. Dan hal-hal semacam itu tak bisa hanya diceramahkan, melainkan perlu dialami langsung oleh sang anak. Dari situ pembelajaran bermakna terjadi, anak pun dapat meregulasi diri untuk belajar secara berkelompok dalam project-based learning.

Ketika sudah dewasa, kolaborasi dapat terjadi pada lintas disiplin ilmu. Masing-masing sosok memiliki spesialisasi, lalu berkumpul dalam suatu tim. Maka suatu masalah dapat dibedah dalam berbagai lini keilmuan. Pun begitu dengan solusi dapat dilihat pada berbagai ragam perspektif.

Kebijakan publik umumnya merupakan pergumulan dari ragam pendapat dan kepentingan. Maka kemampuan kolaborasi adalah kunci.

 

Lihat profil
Arifin

94 artikel di Tajria.