Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap tahunnya di dunia pada tanggal 21 Februari. Tujuan diperingatinya Hari Bahasa Ibu Internasional adalah sebagai pengingat bahwa keberagaman bahasa dan multilingualisme merupakan aspek penting.

Bahasa-bahasa daerah umumnya sekaligus menjadi bahasa ibu masyarakat, walaupun secara konsep bahasa ibu tidak sama dengan bahasa daerah.

Diverse teens chatting on street after studies

Bahasa ibu lebih merujuk bahasa yang pertama kali diperoleh seseorang saat dibesarkan dan berinteraksi dengan bahasa itu di lingkungan keluarganya. Bahasa daerah lebih dinisbatkan pada bahasa yang digunakan kelompok masyarakat atau suku bangsa tertentu yang secara sosiologis berhubungan.

Dalam konteks di Indonesia, bahasa ibu diidentikkan dengan bahasa daerah atau bahasa lokal. Pengidentikkan ini didasarkan pada keberagaman suku dan wilayah yang memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda.

Bahasa dan Ikatan Emosional

Bahasa merupakan sarana efektif untuk mendekatkan isi pesan secara emosional kepada para pendengarnya. Pun begitu bagi para perantau, ketika mendengar bahasa ibu, maka secara naluri akan berusaha mendekat dan mengakrabkan diri. Maka di daerah perantauan, kala para imigran bertemu dengan sesama imigran, ocehan, celotehan bahasa ibu pun bertebaran. Ada kehangatan dan kerinduan tertentu kala mengucapkannya dan mendengarkannya.

Bahkan ketika sedang terjadi tragedi, bahasa ibu, menjadi pelipur tersendiri. Seperti Eduardo da Silva yang mengalami tekel brutal dari bek Birmingham City, Martin Taylor. Eduardo mengalami patah kaki karena tekel tersebut. Saat momentum tragedi itu, Eduardo ditemani Gilberto Silva sebagai penerjemah lantaran hanya bisa berbahasa Portugis.

Contoh kontekstual lainnya terkait adaptasi kebiasaan baru (AKB) protokol kesehatan 3M guna kampanye pencegahan penyebaran Covid-19. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan pedoman perubahan perilaku protokol kesehatan 3M dalam 77 bahasa daerah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menuturkan bahwa kampanye pencegahan penyebaran Covid-19 harus mudah dipahami masyarakat. Menurut Menteri Nadiem, terdapat tantangan yang besar menyangkut kebahasaan terkait isi kampanye. Untuk itu, kata dia, strategi Kemendikbud adalah mengubah pesan-pesan itu ke dalam bahasa yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu bahasa daerah.

Bahasa daerah sebagai bahasa ibu, dinilai sebagai sarana yang lebih efektif untuk mendekatkan isi pesan secara emosional kepada para pendengarnya.

Bahasa daerah sangat strategis untuk mempercepat sampainya informasi kepada masyarakat, mengingat istilah-istilah yang dipakai dalam konteks Covid-19 seringkali merupakan bahasa asing atau serapan dari bahasa asing, seperti “adaptasi”, “asimptomatik”, “new normal”, dan “social distancing”.

 

Sumber: Kemendikbud, Republika

Lihat profil
Arifin

94 artikel di Tajria.