Ahmad Fuadi dikenal sebagai penulis Trilogi Negeri 5 Menara. Ada yang menarik dari filosofi kalimat-kalimat sakti dari seri novelnya. Di antaranya Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil).

Dalam Live Instagram yang dilakukannya, Bang Fuadi menjelaskan secara teatrikal mengenai awal mula diperkenalkannya “Man Jadda Wajada”. 

“Di minggu pertama, ada pelajaran namanya Mahfudzot. Pelajaran Mahfudzot itu isinya adalah kata-kata mutiara berbahasa Arab, yang digunakan untuk, menurut saya nih stimulasi bahasa, stimulasi value,” kenang Fuadi tentang kejadian berbilang tahun yang lampau.

Teacher Asking a Question to the Class

Nyatanya kata-kata mutiara diajarkan dengan cara yang keren. Ustaz yang mengajarkannya masih muda, bersemangat, memakai baju lengan panjang putih yang masih ada bekas setrikanya, serta memakai dasi.  

“Dia masuk dia teriak ‘Man Jadda Wajada’, kita kaget, siapa ini masuk teriak-teriak. Dan kemudian dia suruh, ayo teman-teman, anak-anak semua, kita teriak ramai-ramai ‘Man Jadda Wajada’. Kita enggak ngerti apa, kita teriak saja, teriak yang keras, sampai suara kita habis,” jelas Fuadi.

“Jadinya semangat banget, sampai suara habis dan kemudian dia cerita, pegang kata-kata ini seumur hidup kalian. Ini artinya ‘Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil’,” ungkap Fuadi.

Fuadi yang sedang mempersiapkan novel Buya Hamka ini, untuk kemudian menjelaskan lebih lanjut filosofi “Man Jadda Wajada”.

“Dan kemudian dia berceritalah berbagai kisah tentang bagaimana kalau seorang itu berjuang habis-habisan, suatu ketika dia akan sampai di tujuannya. Jadi lebihkan usaha di atas rata-rata orang lain. Kesungguhan yang penting. Jangan berdoa saja. Berdoa saja enggak cukup, usaha,” urai Fuadi.

Ahmad Fuadi pun menelaah metode pembelajaran yang dilakukan ustaznya di Pondok Pesantren Gontor tersebut.

“Jadi diajarkan dengan cara yang unik. Jadi kita disuruh berteriak, lalu dituliskan, lalu diceritakan, jadi semua sensoris dipakai. Dan itu masuk ke dalam alam bawah sadar kita, saya pikir,” analisa Fuadi.

Begitulah kiranya cara unik pembelajaran yang digunakan. Kita pun apapun profesinya, dapat belajar untuk menerapkan sensoris pada metode pembelajaran. Untuk menstimulasi aneka panca indra. Sebagai orang tua, kita bisa menanamkan nilai dengan menstimulasi panca indra si anak. Metode pengemasan nilainya pun akan membuat anak aktif, tidak sekadar pasif disuapi pesan.

Maka penting kiranya untuk mereimajinasi dan berpikir ulang bagaimana pembelajaran dilakukan. Kenali, susuri nilai-nilai, pelajaran yang ingin disampaikan, lalu pelajarilah aneka cara untuk melakukannya dengan menerapkan sensoris. 

Lihat profil
Arifin

94 artikel di Tajria.