Arifin Diterbitkan 19 August 2021

Gasing yang Tak Sekadar Berputar

Gasing
yang Tak Sekadar Berputar

Apakah Anda masih ingat permainan anak
tradisional? Sebut saja congklak, bekel, gundu atau kelereng, egrang,
othok-othok, terbangan/tambur dari tanah liat, katapel, yoyo, gatrik/bentik,
kodok-kodokan dari tanah liat, bakiak dan kapal-kapalan.

Permainan tradisional, selalu mengutamakan
proses dan kebersamaan. Bila kita ingin bermain, pertama-tama kita membuat
mainannya dulu. Jadi, ada prosesnya. Untuk bahan-bahan pembuatannya pun kerap
berasal dari alam serta untuk pembuatannya mengasah keterampilan diri.

Permainan tradisional juga mengajarkan
banyak nilai, seperti kebersamaan, saling menghargai satu sama lain, dilakukan
secara bersama, dan selalu mengutamakan proses, tidak hanya hasil. Juga dari
permainan tradisional kita dapat belajar untuk berjiwa sportif, ikhlas menerima
kekalahan.

Salah satu permainan anak tradisional
adalah gasing. Gasing merupakan mainan terbuat
dari kayu dan sebagainya yang diberi pasak (paku atau kayu) yang dapat
dipusingkan dengan tali.

Filosofi Gasing

Endi Agus Riyanto yang populer dengan
panggilan Endi Aras merupakan praktisi dan kolektor gasing. Seperti dilansir “Buku
Profil Anugerah Budaya 2017”, di galerinya kini tersimpan tidak kurang 500
gasing dari berbagai pelosok Nusantara dan sejumlah permainan anak Nusantara.
172 Master gasing yang dikoleksinya adalah Tjero Tri Datu dari Bali, yang
beratnya sampai empat kuintal. Dibutuhkan 12 orang untuk mengangkat gasing berwarna
merah dan putih tersebut.

Endi Aras pun memandang filosofi gasing
sebagai hidup yang harus terus berputar dan pentingnya menjaga keseimbangan.

“Hidup memang seperti gasing. Harus
berputar terus. Itu artinya kita harus menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.
Kadang dalam berputar itu kita bersenggolan dengan yang lain, tetapi
keharmonisan harus tetap dijaga agar gasing tetap berputar, agar kehidupan
dapat terus berlanjut,” ujar Endi.

“Filosofi gasing adalah keseimbangan.
Gasing bisa berputar lama karena seimbang. Manusia juga harus bisa hidup
seimbang antara jasmani dan rohani,” tutur Endi Aras.