Arifin Diterbitkan 28 September 2021

Meriahnya Rijsttafel

Meriahnya Rijsttafel

Rijsttafel secara harfiah dalam Bahasa Belanda berarti “meja
nasi”. Rijsttafel merupakan cara penyajian makanan berurutan dengan
pilihan hidangan dari berbagai daerah di Nusantara.

Cara penyajian seperti
ini berkembang pada masa kolonial Hindia Belanda yang memadukan etiket dan tata
cara perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk setempat yang mengonsumsi
nasi sebagai makanan pokok  dengan berbagai lauk-pauknya.

Meskipun masakan yang
disajikan adalah masakan Indonesia, asal mula rijsttafel adalah sejarah kolonial. Pada masa kolonial
Hindia Belanda, para penguasa dan orang kaya Belanda menciptakan perjamuan ini
sebagai sarana untuk menikmati beraneka ragam makanan Nusantara dalam satu
kesempatan, sekaligus untuk membuat para tamu terkesan dengan memamerkan
kekayaan dan kemakmuran.

Pada masa kolonial,
sajian rijsttafel paling tersohor di Hindia Belanda adalah makan
siang tiap hari Minggu di Hotel des Indes di Batavia dan Hotel Savoy
Homann yang terletak di Bandung, di mana nasi disajikan bersama lebih dari 60
macam hidangan.

Pada masa jayanya di
era Hindia Belanda, versi jamuan resmi rijstaffel paling mewah terdiri atas iring-iringan para
pelayan berbusana resmi (kain kebaya untuk pelayan wanita atau beskap,
blangkon, bersarung kain batik untuk pelayan pria), menyajikan belasan hingga
puluhan piring berisi berbagai macam hidangan secara maraton ke meja makan di
mana para tamu perjamuan duduk.

Sajian pertama adalah
nasi putih kadang berbentuk tumpeng kecil yang disajikan di piring
tamu, kemudian satu per satu pelayan datang membawa beraneka macam hidangan
yang terdiri atas lauk-pauk, sayuran, gorengan, sambal dan kerupuk. Hidangan
ini ditawarkan dan disajikan kepada para tamu perjamuan yang mengambil sendiri
hidangan ini dari piring yang dibawa pelayan. Iring-iringan pelayan ini datang
silih berganti membawa aneka hidangan yang bahkan dapat berjumlah hingga 40
macam.