Mengenal
Seluk Beluk Fotografi dari Novel “Partikel”

Salah satu keunikan dari novel-novel
karya Dewi Lestari adalah kemampuannya untuk menghadirkan ragam profesi. Bukan cuma
sekilasan atau tempelan, profesi itu benar-benar mampu dikulik dengan dalam. Di
antaranya melalui tokoh Zarah di novel Partikel,
sidang pembaca dapat “menyeruput”, mengenal seluk beluk fotografi.

Mau tahu jenis kamera yang langka? Anda
bisa menyimaknya pada kutipan novelnya berikut ini (halaman 239):

“Boleh lihat kameramu?” kata Paul
kepadaku.

Begitu kukeluarkan kameraku dari tas,
Gary yang langsung menganga. “Holy Mary,
Mother of God
!” serunya. Ia menatapku tak percaya. “Is that—? Is that what I think it is?”

Aku bingung melihat reaksi dahsyat Gary.
“Mmm…FM2/T?” kataku hati-hati.

Jesus
in heaven
!” teriaknya lagi. “Paul! Dia punya FM2/T! Nikon Titanium limited edition Year of the Dog,
keluaran tahun ’94, cuma dibikin tiga ratus unit di dunia,” lalu Gary melihatku
lagi. “Kok, bisa?” tanyanya. Tidak terima.

Mau tahu selayang pandang fotografer wildlife profesional? Simak kutipan
novelnya berikut (halaman 253):

…”Kalau kamu mau berkembang sebagai
fotografer wildlife profesional, kamu
harus lihat dunia. Kamu harus mengalami hutan lain, alam lain, negara lain.
Cuma dengan begitu kamu bisa berkembang.”

“Nggak semua orang bisa diam di dalam
batang kayu dua jam untuk memotret buaya dari jarak dekat. Kalau kamu nggak
ambil foto ini, bagaimana kita bisa tahu rasanya kontak mata dengan buaya? Nggak
semua orang bisa tahan berbulan-bulan di Arktik mengintili beruang kutub. Kalau
nggak ada yang melakukannya, bagaimana orang di belahan dunia lain bisa tahu
betapa penting dan indahnya beruang kutub? Bagi saya, fotografi wildlife adalah jembatan bagi orang
banyak untuk bisa mengenal rumahnya sendiri. Bumi ini. I see our profession as an important bridge that connects Earth and
human population. We’re the ambassador of nature
.”

Tak hanya kemampuan fotografi yang
rumit, ilmu dasar menguasai kamera pun diungkapkan. Seperti momentum kala Zarah
“berguru” dengan tukang foto keliling bernama Pak Kas berikut kutipannya (halaman
163):

Di kesempatan lain ia bercerita tentang
ilmu dasar menguasai kamera. Dengan menggunakan sebatang ranting, ia gambarlah
segitiga di atas tanah.

“Hasil fotomu itu ditentukan oleh tiga
hal ini, Nduk,” ia menunjuk segitiganya. “ASA film-mu, diafragma, dan kecepatan
lensa kameramu. Hasil keseimbangan tiga hal ini namanya exposure. Kalau tiga hal tadi pas, maka exposure-mu seimbang. Fotonya pasti bagus dan jelas. Kadang orang
sengaja pengin lebih terang, berarti buatlah proporsi segitiga yang
menghasilkan exposure yang tinggi. Kadang
orang sengaja cari hasil foto yang gelap remang-remang, ya, buatlah proporsi yang
menghasilkan exposure rendah. Tiga inilah
yang bisa kamu mainkan. Kalau fotonya terlampau terang atau terlampau gelap? Berarti
ada yang salah di ketiga hal ini.”