Arfianingrum Pujiastuti Diterbitkan 22 November 2021

Apakah Benar Anak Tengah adalah Anak yang Terabaikan?

Apakah Benar Anak Tengah adalah Anak yang Terabaikan?

Beberapa waktu lalu saya membaca posting salah seorang influencer
terkait sindrom si anak tengah. Menurut influencer tersebut, anak tengah
kerap kali dinilai sebagai anak yang ‘terabaikan’. Sebagai anak tengah, saya
jadi berpikir apakah benar saya merasa ‘terabaikan’?

Saya merasa tidak terabaikan dan mendapatkan kasih sayang
yang sama seperti kakak dan adik saya dari kedua orang tua. Tapi entah kenapa saya
pernah menangis karena menonton adegan Deok Sun si anak tengah pada serial Drama
Korea Reply 1988 yang mencurahkan segala isi hatinya.

Selama 17 tahun hidup, Deok Sun selalu merayakan ulang
tahunnya bersama Bo Ra, sang kakak. Bukan momennya yang bersama, namun kue
ulang tahun serta acara perayaan yang orangtuanya buat menjadi satu untuk
menghemat biaya. Deok Sun sudah mewanti-wanti, jika ia ingin ulangtahun
ke-18nya dirayakan terpisah. Namun sang ibu tidak menganggap ucapan anak
tengahnya ini sesuatu yang serius.

Saya merasa sangat ‘related’ dengan adegan itu, saya bisa
merasakan apa yang Deok Sun rasakan. Ternyata saya merasa sebagai anak tengah,
saya harus bisa harus menopang kesuksesan anak sulung dan melindungi anak bungsu.
Tanpa saya sadari, saya dituntut untuk lebih pengertian. Saya dianggap lebih
mandiri dan bisa menyelesaikan permasalahan saya sendiri.

Ummu Balqis, seorang penggiat parenting memberikan
tips agar anak tengah tidak merasa terabaikan, salah satunya dengan menyediakan
quality time khusus. Set waktu dan kegiatan khusus bersama anak tengah
dan kedua orang tua saja. Saat quality time tersebut saatnya orang tua
mengungkapkan rasa sayang kepada si anak tengah dan dengarkan curahan hatinya. Ucapkan
pula rasa terima kasih atas pengertiannya selama ini.