Filosofi Stoisisme, Ayo Fokuskan Energi pada Hal yang Bisa
Kita Kendalikan

Tertarik
mempelajari Stoisisme, filsafat Yunani-Romawi kuno yang diyakini dapat
mengatasi emosi negatif serta menghasilkan mental yang tangguh?

Tentu filosofi
tersebut bukan sekadar untuk dihafal dan diingat saja. Melainkan ditempa
melalui praktik dan diupayakan lewat latihan sehari-hari.

Secara sederhana,
hal-hal pokok yang ada pada filsafat Stoa adalah: a) pembedaan antara apa yang up to us (tergantung pada kita) dan not up to us (tidak tergantung pada
kita); b) soal baik atau buruk itu tergantung dari cara jiwa kita
menafsirkannya; c) segala situasi hidup yang menimpa kita bersifat indifferent (netral saja).

Filsafat Stoa
percaya pada perbedaan pokok antara “apa yang tergantung padaku” dan “apa yang
tidak tergantung padaku”.

Pada buku Filosofi Teras, Setyo Wibowo memberikan
saran aplikatif tentang menjadi Stoa di era media sosial.

“Jadilah seperti Stoa.
Kendalikan persepsi dan pikiranmu. Itu ada di dalam kendalimu. Lalu bagaimana
dengan omongan media sosial, komentar orang lain, dan persepsi orang lain?
Mereka tidak ada di dalam kendalimu, jadi terima dan biarkan saja,” ucapnya.

 Hal senada juga diungkapkan oleh penulis buku Filosofi Teras Henry Manampiring.

“Dengan memahami dikotomi
kendali, kita belajar ikhlas dan tidak meresahkan hal-hal yang tidak bisa kita
kendalikan, dan memfokuskan energi pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Kita
belajar mengendalikan interpretasi atas semua kejadian di dalam hidup kita,
sehingga kita tidak menjadi reaktif terus terhadap situasi, bagai sekoci tak
berdayung di lautan lepas,” ungkapnya.