Menyaksikan tayangan kuliner tak sekadar soal lezatnya makanan. Nyatanya kita dapat belajar mengenai sejarah, budaya, sosial, pengelolaan restoran, dan sebagainya. Seperti yang bisa didapatkan ketika menyaksikan konten di YouTube Raditya Dika bertajuk “Diajarin Bisnis Sama Ruben Onsu”.

Anda dapat belajar mengenai rantai stok makanan, seperti diungkap oleh Ruben Onsu dengan mengambil sampel kecap asin untuk mi. Menurutnya beda merek, akan berbeda harganya. Maka dirinya harus mempertimbangkan harga dan rasa.

Setelah harga dan rasa ok, masih ada tahapan melihat seberapa banyak yang dapat memproduksi kecap asin tersebut.

“Jangan-jangan yang produksi sedikit. Pembeli sudah candu dengan rasanya, senang, terus ada yang kita ubah, pasti dia berasa,” jelas Ruben yang memiliki lini usaha Geprek Bensu.

Ruben pun menganalogikan, mungkin pernah memiliki pengalaman dengan restoran yang mengalami perubahan rasa. Hal tersebut bisa dikarenakan bahan bakunya yang berbeda.

Maka ketika memiliki restoran, terkait bahan baku, harus dipikirkan pula mengenai skalanya. Termasuk kemungkinan restoran berkembang serta membuka cabang dimana-mana. Dalam hal ini Geprek Bensu berupaya mandiri di antaranya dengan memiliki pabrik tepung dan kebun cabe sendiri.

Masih terkait bahan baku, jika merujuk pada sejumlah restoran, maka ada yang menggunakan koki hingga bahan kuliner dari daerah tertentu.

Hal tersebut dapat dilihat pada konten YouTube “Rumah Makan Padang Ini Bikin Kangen”. Selebgram Arief Muhammad yang membuka rumah makan Padang Payakumbuah. Beras, cabe, hingga santan (kelapa) dikirim dari Sumatra Barat. Rumah makan Padang Payakumbuah juga mengungkap selalu memasak bahan-bahan segar. Seperti dilansir Detik, semuanya dimasak segar, tidak ada bahan segar yang disimpan atau distok. Jadi begitu bahan datang, langsung dimasak.