Arifin Diterbitkan 23 September 2022

Ayo Habiskan Makanan Di Piringmu! 

Food and Agriculture Organization (FAO) sedang mengampanyekan narasi “A Tale of Empty Plates”. Senyampang dengan itu dunia timur dan barat semakin menyadari pemborosan makanan dan potensi rawan pangan akibat pandemi Covid-19, konflik geopolitik, serta inflasi harga pangan dan energi.

Setiap orang Indonesia rata-rata membuang makanan setara Rp2,1 juta pertahun. Hasil analisis Kompas menemukan, nilai sampah makanan di Indonesia mencapai Rp330 triliun pertahun.

Jika merujuk dari data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia tahun 2020, sampah makanan mencapai 40 persen dari total sampah yang dihasilkan masyarakat di 199 kabupaten/kota. 

Berdasarkan hasil analisis Kompas, apabila sampah makanan ditempatkan pada kotak nasi ukuran 20 cm x 20 cm serta tinggi 7 cm, lalu disusun dengan dasar seluas alas Monas (80×80 meter), sampah makanan di Jakarta tingginya mencapai 1.817 meter atau melampaui gedung pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Al Khalifa (828 meter). Sampah makanan di Jakarta bisa mencapai 14 kali ketinggian Monas dan lebih tinggi dari Gunung Kelud (1.731 mdpl). 

Maka mengosongkan piring, menghabiskan makanan yang ada di piring, sesungguhnya dapat berdampak nyata pada berbagai segi. Di antaranya mengurangi kemubaziran seperti tertera pada data tersebut, serta memangkas akumulasi sampah makanan.

Pelaku pola Zero Waste Andhini Miranda  memiliki tips untuk mencegah food waste, yakni jika memesan makanan sesuaikan dengan porsi perut. Menurutnya lebih baik kurang, lalu nambah, daripada berlebih dan jadi food waste.

Andhini juga menerangkan bahwa dengan menghabiskan makanan dapat meredam pemanasan global.

Sebelum menjadi makanan yang siap santap, makanan melewati proses yang sangat panjang. Mulai dari ditumbuhkan, dirawat, dipanen, dikemas, didistribusi, kemudian dimasak. Dimana setiap tahapannya melepaskan gas rumah kaca yang membuat bumi semakin panas. Dalam keseluruhan proses juga menghasilkan sampah, yang jika tidak dikelola juga melepaskan gas rumah kaca yang memperparah pemanasan global.

Lalu, saat makanan sudah disajikan di meja kita, dan tidak dihabiskan, sampah makananannya juga melepaskan gas rumah kaca.

Gas rumah kaca ini membuat bumi semakin panas dan memicu krisis iklim, yang berujung banyak bencana lingkungan.

Hal yang sama berlaku juga pada minuman. Dengan hal sederhana menghabiskan makanan, kita bisa membantu meredam pemanasan global.