Arifin Diterbitkan 22 February 2022

Panjang Umur Bahasa Daerah

Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap tahunnya di dunia pada tanggal 21 Februari. Tujuan diperingatinya Hari Bahasa Ibu Internasional adalah sebagai pengingat bahwa keberagaman bahasa dan multilingualisme merupakan aspek penting.

Bahasa-bahasa daerah umumnya sekaligus menjadi bahasa ibu masyarakat, walaupun secara konsep bahasa ibu tidak sama dengan bahasa daerah.

Bahasa ibu lebih merujuk bahasa yang pertama kali diperoleh seseorang saat dibesarkan dan berinteraksi dengan bahasa itu di lingkungan keluarganya. Bahasa daerah lebih dinisbatkan pada bahasa yang digunakan kelompok masyarakat atau suku bangsa tertentu yang secara sosiologis berhubungan.

Dalam konteks di Indonesia, bahasa ibu diidentikkan dengan bahasa daerah atau bahasa lokal. Pengidentikkan ini didasarkan pada keberagaman suku dan wilayah yang memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda. Contohnya dalam hal menghitung angka. Ada yang menghitung angka dengan “sikok, duo, tigo…”; lalu ada yang mengeja bilangan dengan “mbai, be, name…”; lalu di daerah lain merapalkan nomor dengan “ije, due, telu…”.

Perlu diketahui para penutur jati bahasa daerah banyak yang tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasa ke generasi berikutnya, sehingga khazanah kekayaan budaya, pemikiran, dan pengetahuan akan bahasa daerah terancam punah. Bersama bahasa daerah itu, budaya dunia dan sistem pengetahuan leluhur ikut terancam punah. Hilangnya bahasa daerah berarti hilangnya juga pengetahuan tentang obat tradisional, cara menjaga lingkungan yang berasal dari leluhur.

Maka salah satu tips, kunci, agar bahasa daerah tetap panjang umur, yakni dengan melakukan regenerasi dengan fokus pada penutur muda.

Doronglah publik untuk memublikasikan hasil karya berbasis bahasa daerah. Hal ini di antaranya telah secara konsisten dilakukan melalui Anugerah Sastera Rancage yang telah digelar hingga 34 kali. Seperti dilansir majalah Tempo, Rancage, yang berarti kreatif dalam bahasa Sunda, menilai karya-karya sastra berbahasa daerah terbaru. Setiap peserta harus membuat karyanya dalam bentuk buku cetak. Hasil terbitannya dalam kurun setahun itu yang dinilai dan diumumkan tiap akhir Januari pada tahun berikutnya. Buku merupakan karya tunggal penulis berbentuk prosa atau puisi.

Ragam sastra yang dinilai pada Anugerah Sastera Rancage di antaranya sastra Sunda, sastra Jawa, sastra Bali, sastra Lampung, sastra Batak, sastra Banjar, sastra Madura.

Lalu teknologi digital, juga diharapkan dapat mendukung penggunaan dan pelestarian bahasa daerah. Tak ada salahnya bukan untuk mendengungkan bahasa daerah di media sosial Anda?