Arfianingrum Pujiastuti Diterbitkan 22 March 2022

Uniknya Upacara Minum Teh Patehan

Tahukah Anda tentang upacara minum teh Patehan? Nama Patehan sendiri berasal dari “teh”, yaitu jenis minuman yang diseduh. Sesuai dengan artinya, Patehan adalah orang yang bertugas menyiapkan minuman, khususnya teh, dan segala perlengkapan untuk keperluan Keraton Yogyakarta.

Agenda harian Patehan adalah menyiapkan rutinitas minum teh pukul 6.00 pagi dan 11.00 siang, selalu tampak iring-iringan kecil dari lima orang Abdi Dalem Keparak (Abdi Dalem perempuan) di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Ritual ini awalnya merupakan kebiasaan upacara minum teh sehari-hari yang diikuti oleh para sultan sebelumnya, tetapi mendapat sedikit penyesuaian pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Untuk proses pembuatan minuman, air dimasak dalam ceret khusus yang terbuat dari tembaga. Bahan tembaga dipilih karena dipercaya bisa menjadi penetral air sekaligus penolak bala.

Seperti dilansir laman kratonjogja, setelah matang, air tersebut dipakai sebagai penyeduh teh untuk dibuat dekokan. Dekokan the adalah seduhan teh sangat kental yang nantinya diencerkan dengan air putih saat dihidangkan. Dekokan didiamkan selama setengah jam tanpa diaduk. Setelah siap, setengah dari dekokan dipindahkan ke sebuah teko khusus untuk raja. Separuh sisanya akan diberikan pada Abdi Dalem Keparak yang bertugas sebagai icip-icip atau pencicip.

Cara menyajikan minuman di Patehan tidak sederhana. Setiap bahan memiliki takarannya dan ada cara-cara khas yang diberlakukan dengan tujuan tertentu. Masing-masing bahan memiliki takarannya sendiri. Ada juga cara-cara khas yang diberlakukan dengan tujuan tertentu. Misalnya, tidak mengaduk-aduk teh saat menyeduhnya agar kualitas rasa tidak berkurang. Bahan dasar minuman pun dipertahankan dari tempat asal yang sama seperti era sebelumnya.

Minum teh ternyata tidak hanya sebatas melepas dahaga. Di pusat kebudayaan Jawa seperti Keraton Yogyakarta, menyiapkan dan menyajikan minuman merupakan sebuah prosesi. Di dalamnya terdapat seni, olah rasa, sarana legitimasi, juga pelestarian tradisi.