Arifin Diterbitkan 5 April 2022

Lari Yang Tak Hanya Soal Jarak

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar diksi lari? Capek, melelahkan, lari = trauma hukuman. Bisa jadi deretan impresi itulah yang muncul.

Berlari sendiri merupakan aktivitas yang turut tumbuh berkembang di masa pagebluk Covid-19. Yups, pandemi memang “memberi kesempatan” kita untuk mencoba hal baru, mungkin ada yang jadi suka tanaman, rajin bersepeda, rajin olahraga lari, dan sebagainya.

Lari, dapat menjadi opsi bagi Anda. Tentu dengan aktif dan rutin berlari merupakan upaya untuk menangkal sedentary lifestyle. Simaklah pernyataan dari jurnalis Najwa Shihab.

“Kenapa lari? Mungkin karena lari sepenuhnya mengandalkan kekuatan fisik dan pikiran. Tidak perlu alat dan ragam cara. Ketika pandemi memaksa kita kehilangan banyak pilihan, lari adalah cara saya memastikan tetap punya daya. Niat, target, rencana, eksekusi, kontrol, semua ada di tangan (dan kaki) saya,” tulis Najwa di takarir Instagram-nya.

“Karena lari bukan semata urusan jarak atau pace waktu. Tapi perasaan tuntas bisa menyelesaikan sesuatu. Saya gak bilang lari itu gampang dan bisa cepat lancar. Sampai sekarang saya masih jauh dari target-target yang saya idamkan,” sambung penggiat literasi ini.

“Yang saya mau bilang, lari itu terukur dan bisa diukur. Kita bisa lihat di mana kita memulai dan seberapa jauh capaian kita. Dan itu mengajarkan hal yang sesungguhnya sederhana; tiap usaha selalu berharga. Tanpa upaya kita tidak akan dapat apa-apa,” tutur Najwa yang mengajak publik untuk mengikuti Pocari Sweat Run 2022 pada 24 Juli 2022.

Najwa sendiri pada sebuah webinar mengungkap relasi dirinya dengan lari pada masa lalu. Ia mengaku memiliki momok, bahkan trauma terkait lari. Hal itu berakar dari peristiwa dalam pelajaran olahraga. Najwa mengaku dirinya ketika di sekolah memang agak kurang dalam hal olahraga, segala hal yang terkait dengan fisik, koordinasi, keseimbangan.

Pendiri Narasi ini mengaku ketika di sekolah dahulu, rekan sekelasnya menertawakan gaya larinya yang aneh. Najwa sekarang adalah sosok yang menyukai lari. Ia belajar bagaimana cara lari yang benar. Dalam seminggu bisa 4, 5 kali ia berlari. Ia berusaha menekel, apa yang dulu tak bisa dilakukan.

Tentu hal tersebut tidak datang dengan tiba-tiba dan tanpa usaha. Sosok yang akrab dipanggil Nana ini memiliki kemauan untuk menaklukkan rasa takut. Ia pun menempuh sejumlah cara untuk “bersahabat” dengan lari. Mulai dari belajar dengan yang lebih ahli, mengajak para pelari maraton yang berhasil untuk menemaninya lari, hingga belajar serta berlari bersama rekan-rekannya.