Arifin Diterbitkan 11 April 2022

Ragam Cara Cerdas Berliterasi Bagi Anak

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mewawancarai penggiat literasi Edi Dimyati. Bertempat di Taman Baca Kampung Buku di bilangan Cibubur, Jakarta Timur, ia bercerita dan menunjukkan buku yang bisa mengeluarkan aroma berbagai buah dan bunga. Alhasil bagi pembacanya dapat bermain tebak-tebakan misteri aromanya bersama buku tersebut.

Selama pagebluk Covid-19 ini, Big Bad Wolf Books menjadi incaran istri saya. Buku impor anak dengan harga relatif terjangkau menjadi buruannya. Boleh dibilang buku-buku yang berhasil didapatnya tak hanya menarik secara konten, melainkan juga pengemasan. Tak hanya sekadar membaca atau dibacakan, anak melalui buku-buku tersebut diaktifkan motoriknya.

Sementara itu sejumlah buku anak pun merangkul teknologi, seperti augmented reality. Anak misalnya diminta untuk melakukan tracing pada angka ataupun nomor.

Pengalaman membaca buku yang beragam tersebut, bisa membuat anak menjadi bersahabat dengan buku. Anak yang meminta untuk membaca/dibacakan, atau bahkan dia sendiri yang mengambilnya.

Pada kelas online yang diikuti oleh anak saya (yang kini berusia 34 bulan), salah satu sesi yang ada adalah read aloud. Sang guru membacakan cerita, sementara anak diminta menyimak, sembari melakukan mute pada perangkat elektroniknya. Meski tentu saja bagi anak-anak, read aloud ini bisa tidak terlalu disimak oleh anak, namun ada tautan literasi yang membekas baginya, serta sebagai bagian untuk mengenalkan literasi sejak dini.

Pun begitu dengan sejumlah majalah yang saya perkenalkan kepada anak. Majalah Bobo misalnya yang untuk genre anak-anak, terkadang majalah itu dirobek, diwarnai, namun anak saya tetap bertaut dengan gembira dengan dunia baca. Ia di antaranya akrab dengan sejumlah rubrik seperti Paman Kikuk, Bobo, ataupun Bona.

Dunia membaca pun dapat bertalian dengan mendongeng misalnya. Seperti perbincangan saya dengan Edi Dimyati ketika melakukan touring dengan Kabaca (Kargo Baca). Di antara yang ikut touring tersebut, ada yang memiliki keahlian mendongeng. Dengan dongeng dapat mendekatkan literasi pada anak, dikarenakan ada unsur drama, dikemas sebagai cerita.

Kecintaan anak terhadap bacaan memang dapat tumbuh melalui berbagai pintu. Yang harus dilakukan adalah dengan berupaya dan memasifkannya di masyarakat.