Arifin Diterbitkan 13 April 2022

Merakit Ide

Bagaimanakah proses kreatif terjadi? Hal itu di antaranya dapat terlihat pada iklan BCA yang menggandeng penyanyi Tulus. Dialog dengan diri sendiri, merenung, meracik ide di kepala.

Bagaimana dengan proses kreatif Anda? Apakah Anda memiliki tempat dan waktu tersediri untuk menghadirkan ide kreatif?

Dari pengalaman pribadi, saya bisa mendapatkan ide menulis dari membaca, mengobrol, menonton, mendengarkan musik, melamun. Membaca, dikarenakan ranah pekerjaan saya terkait dengan literasi, maka dari medium apa pun saya membaca, jika mendapat ide, kalimat yang ok, maka saya mencatatkannya. Untuk pencatatan dari yang konvensional di buku tulis, hingga di ponsel serta laptop. Ide-ide dasar yang dicatat tersebut bisa menjadi embrio tulisan. Jika dipandang telah cukup secara bahan dan mood, maka saya pun meraciknya. Jika merasa belum sreg untuk mengeksekusinya, saya endapkan saja. Terkadang bisa beberapa waktu kemudian, saya menemukan tautan, ataupun informasi yang menguatkan catatan awal tersebut, barulah saya tergerak untuk menuangkannya dalam tulisan.

Untuk urusan mencatat ini, sebenarnya dari berbagai kanal ide, saya catatkan. Baik itu membaca, mengobrol, menonton, mendengarkan musik, melamun, begitu mendapat ide menarik ataupun kalimat unik, saya catatkan.

Ide dari pengalaman saya juga bisa dikerucutkan jika melihat para ahli. Maka sejumlah media sosial pun saya ikuti sebagai bagian dari inspirasi, belanja ide. Lalu kemudian saya lakukan modifikasi ketika menuangkannya dalam tulisan.

Dalam menghasilkan tulisan pun, saya dapat merentangkan beberapa ide yang ada untuk kemudian mencari benang merahnya. Tentu dalam hal ini diperlukan jembatan yang pas agar smooth dibaca.

Dalam proses kreatif sendiri, soal waktu bisa beragam. Ada yang bisa dikerjakan secara cepat, ada yang terkadang terputus, butuh diendapkan, lalu ditengok lagi untuk disambung, diselesaikan.

Apapun pekerjaan Anda, saya percaya bahwa merakit ide membutuhkan waktu, kesungguhan, upaya.