Arifin Diterbitkan 29 April 2022

Melambat dan Memangkas Kesibukan

Istilah burn out, healing, menjadi diksi yang ramai berseliweran. Burn out karena tumpukan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya. Lalu untuk healing, ragam cara pun ditempuh, melalui jalur kuliner, hingga menenangkan diri di Ubud, Bali.

Ubud dipandang sebagai representasi yang tepat untuk healing. Di antaranya melalui tempo di sana yang seakan melambat. Hidup yang tidak diserbu oleh ketergesaan.

Hidup di kota besar, memang dapat identik dengan keramaian, ketergesaan. Mulai dari berangkat kerja ke kantor, ataupun berangkat ke sekolah, kemacetan dapat menghampiri. Tentu macet dapat berimplikasi pada stres.

Mengenai tempo yang melambat ini, sesungguhnya Anda dapat menghadirkannya dalam keseharian. Di antaranya pada dini hari, pada malam hari, rutinkan untuk melakukan kontemplasi. Sejenak berdialog dengan diri, menimbang segala.

Aneka kesibukan yang ada juga dapat dilakukan mitigasi dengan fokus mengerjakan bagian demi bagiannya perlahan. Hadirkan kesadaran yang utuh untuk mengerjakan bagian demi bagian itu. Begitu selesai satu urusan, Anda dapat mengerjakan urusan lainnya. Capaian Anda juga dapat terlihat, misalnya dengan menerapkan teknik pomodoro, yang mengombinasikan antara kerja dan istirahat.

Anda pun perlu menimbang mengenai segala kesibukan. Apakah ada yang bisa didelegasikan, tidak usah dikerjakan, sehingga waktu yang ada tidak begitu padat dan seakan tidak memberi Anda untuk bernapas.

Melambat juga sesungguhnya diperlukan untuk Anda melihat perspektif lainnya. Mempertanyakan misalnya, telah tepatkah selama ini kesibukan yang saya lakukan? Apakah ada opsi lainnya dengan hasil yang sama dan lebih efisien? Atau mencoba peruntungan baru misalnya.