Arifin Diterbitkan 10 May 2022

Membersamai Anak Membaca

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan bertandang ke Taman Baca Kampung Buku di bilangan Cibubur, Jakarta Timur. Saya pun berkesempatan berbincang dengan pendiri Taman Baca Kampung Buku, serta inisiator Kargo Baca/Kampung Buku Membaca (Kabaca), Edi Dimyati.

Salah satu poin yang menarik dalam perbincangan kala itu adalah pendapat Edi tentang tak perlu mempertentangkan sumber informasi, baik itu yang datangnya melalui digital, maupun melalui ranah cetak. Yang paling esensial adalah membersamai anak dalam membaca.

Menurut penulis buku 47 Museum Jakarta: Panduan Sang Petualang ini mengenai minat baca, syarat utamanya ada 2 yakni, pertama, akses bacaan, ada bahan bacaan di rumah; kedua, peran orang tua.

“Kehadiran taman baca sebenarnya bukan syarat prioritas, melainkan hanya penunjang saja, justru yang penting orang tua. Orang tua yang selalu mendekatkan anak-anak ke bahan bacaan,” ungkap Edi.

Edi lalu membeberkan perihal penelitian yang melibatkan dua keluarga yang menggunakan pendekatan berbeda dalam memberikan akses informasi kepada anaknya.

“Sebut saja keluarga A diberikan akses informasi hanya berupa cetak – buku, koran, dia tidak diberikan akses internet, TV berbayar, tidak diberikan laptop yang bisa browsing Google, pokoknya buku, buku, dari cetak,” ujar Edi.

“Tapi di keluarga yang satunya lagi dikasih akses-akses yang tidak dikasih di keluarga itu. Dikasih laptop yang bisa browsing, langganan TV berbayar, gadget yang ada internetnya,” sambungnya.

Dari input tersebut, menurut Edi, 2 tahun kemudian output-nya sama.

“Anaknya sama-sama kreatif. Ternyata ada satu kesamaan, waktu si anak mengakses informasi selalu didampingi orang tua,” kata Edi Dimyati.

Telahkah Anda membersamai anak ketika ia mengarungi informasi?