Pada akhir pekan kemarin, kami (saya, istri, dan anak) sekeluarga pergi ke daerah Kota Tua. Di bilangan Kota Tua terdapat beberapa museum yakni Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia. Kami berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta yang juga dikenal sebagai Museum Fatahillah. Sementara itu, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia (BI) belum dapat dikunjungi secara langsung.

Seperti diwartakan akun Instagram @museum_bi, sejak 16 Maret 2020 Museum BI masih belum beroperasi, maka Anda hanya dapat melakukan kunjungan melalui dalam jaringan (daring)  dengan mendaftar di: linktr.ee/MuseumBI

Sembari menunggu Museum Bank Indonesia dibuka kembali, sejumlah informasi terkait uang bisa Anda jelajahi. Di antaranya adanya fitur di Rupiah yang ramah tunanetra. Fitur itu dikenal sebagai blind code, berupa efek rabaan yang dicetak timbul berbentuk sepasang garis miring di tepi kiri dan kanan uang. Semakin besar nominal uang, semakin sedikit jumlah pasangan garisnya. Fitur blind code juga menjadi salah satu ciri keaslian Rupiah.

Lalu pernahkah Anda mendengar ragam istilah penyebutan uang berikut: Setali, Cepek, Gopek, Seceng, Noceng, Goceng, Ceban, Noban, Goban.

Istilah Setali digunakan untuk seikat uang bernilai 25 sen. Tiga keeping uang logam yakni dua keeping 10 sen dan satu keping 5 sen disatukan dengan tali hingga berjumlah 25 sen.

Adapun istilah Cepek, Gopek, Seceng, Noceng, Goceng, Ceban, Noban, Goban; merupakan dialek Tiongkok yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Jakarta. Mau tahu besaran Rupiahnya? Yuk, disimak sebagai berikut:

Cepek (Rp100)

Gopek (Rp500)

Seceng (Rp1000)

Noceng (Rp2000)

Goceng (Rp5000)

Ceban (Rp10.000)

Noban (Rp20.000)

Goban (Rp50.000)