Arifin Diterbitkan 19 June 2022

Menilik Cengkih Dan Filosofinya

Cengkih digunakan sebagai bumbu dalam hidangan Asia, Afrika, Mediterania, serta negara-negara Timur Dekat dan Timur Tengah, untuk memberikan rasa pada daging, kari, dan bumbu-bumbu, serta buah-buahan (seperti apel, pir, dan rhubarb). Cengkih dapat digunakan untuk memberikan kualitas aromatik dan rasa pada minuman panas, sering dikombinasikan dengan bahan lain seperti lemon dan gula. Cengkih juga biasanya digunakan dalam campuran rempah-rempah dan bumbu, seperti bumbu pai labu dan roti rempah speculaas.

Cengkih dapat digunakan sebagai bumbu baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Bumbu ini digunakan di Eropa dan Asia. Di Indonesia, cengkih terutama digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkih juga digunakan sebagai bahan dupa di Republik Rakyat Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkih digunakan di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi. Daun cengkih kering yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai pestisida nabati dan efektif untuk mengendalikan penyakit busuk batang Fusarium dengan memberikan 50-100 gram daun cengkih kering per tanaman.

Filosofi Cengkih di Maluku

Salah satu wilayah, dimana cengkih tumbuh yakni di Maluku Utara. Cengkih merupakan tanaman endemik Maluku Utara.

Pada masa lalu, cengkih digunakan sebagai obat. Daun cengkeh itu dulu obat herbal yang cukup ampuh bagi orang-orang Maluku. Jadi, daun cengkih diambil dan dijadikan obat sehingga ada kemungkinan besar orang-orang Maluku mempertahankan dan melestarikannya karena menjadi obat yang sangat baik bagi masyarakat setempat pada saat itu.

Seperti dilansir Kementerian Pendidikan RI, Cengkih menjadi filosofi hidup masyarakat Maluku Utara, khususnya Ternate. “Doka gosora se bualawa. Om doro fo mamote. Foma gogoru, foma dodara” yang berarti kehidupan bermasyarakat layaknya cengkih dan pala yang masak (hidup) dan gugur (mati) bersama-sama.

Sampai sekarang masih ada sistem adat yang masyarakat jalankan terkait penanaman cengkih.  Setelah cengkih dan pala panen, ada sistem bagi hasil yang kemudian disedekahkan ke masjid karena masyarakat Tubo percaya bahwa ada bagian dari orang lain dari setiap cengkih yang mereka hasilkan.