Pada Sabtu (16 Juli 2022) bertempat di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Teater Tanah Air mempersembahkan “Spectacle HELP: A Visual Theatre Performance”. Lakon “Spectacle HELP: A Visual Theatre Performance” karya Putu Wijaya yang disutradarai Jose Rizal Manua ini menampilkan 17 anak dalam pertunjukannya.

Kami sekeluarga menyaksikan lakon teater tersebut. Sebagai informasi, anak kami yang berumur 38 bulan ikut menyaksikan. Pun begitu dengan keponakan kami yang berumur 5 tahun. Tak hanya keluarga besar kami yang membawa anak, di barisan penonton terlihat antusiasme anak-anak yang juga turut menyaksikan pertunjukan selama 1 jam tersebut.

“Spectacle HELP: A Visual Theatre Performance” membawa semangat bermain anak-anak mengembara dengan imajinasinya, berpetualang dengan fantasinya, serta berasosiasi dengan ragam simbol yang diambil dari manusia, alam, dan lingkungannya.

Ekspresi anak-anak yang otentik, unik, bebas, tak terduga, penuh kejutan, itu juga muncul dalam pertunjukan. Seperti misalnya ada anak yang mengendarai motor mainan, ia lalu terjatuh dengan motor mainan tersebut, dan tetap saja di posisinya selama selang beberapa lama. Sebuah ekspresi yang khas anak-anak.

Dalam teater tersebut para pelakon anak mengolah tubuh dan suaranya, melatih spontanitas, dan memaksimalkan kemampuannya berimprovisasi. Dalam hal mengolah tubuh dan suaranya, hal tersebut terlihat dalam sejumlah gerak tari yang mendominasi pertunjukan. Adapun olah suara, tentu pelakon anak harus menata agar suaranya sampai di seantero teater.

Untuk makna cerita, sutradara Jose Rizal Manua memilih pendekatan pedagogi yang ramah anak.

“Lakon tidak perlu nyata-nyata mengkhotbahi. Anak-anak suka belajar tapi tidak suka digurui. Jadi, yang baik adalah memberi kerangka sedemikian rupa di mana tidak dikatakan bagaimana seharusnya, tapi biarkanlah segalanya terjadi secara partisipasi aktif anak-anak terhadap pola tindak-tanduk yang akan mereka ikuti,” jelas pendiri Teater Tanah Air ini.

Hal tersebut dilukiskan dalam kata-kata dan pola gerak, serta dialog penuh semangat, imajinatif, dan segar.

Melibatkan keterlibatan para penonton juga diperlihatkan dengan pelakon anak yang mempersilakan untuk menerbangkan pesawat kertas yang ada di sisi bangku penonton. Hal itu sebagai bentuk dukungan, kerja sama untuk menghadapi dua tokoh bandit berseragam robot.

Interaksi juga terlihat selepas pertunjukan dimana para penonton diberikan kesempatan untuk berfoto bareng dengan para pelakon anak ataupun mereka yang “berpeluh” di belakang layar seperti sutradara Jose Rizal Manua, serta Putu Wijaya.

Pertunjukan “Spectacle HELP: A Visual Theatre Performance” menurut hemat kami ramah anak dikarenakan banyaknya gerakan dan tarian. Sesekali muncul dialog yang sekalipun singkat, namun memikat. Beberapa simbol yang akrab dengan anak pun muncul, seperti robot, ondel-ondel.

Repetisi lagu, gerakan dan nyanyian itu masih nyantel selepas teater. Seperti “Song of Peace” dengan diksi Oo…Aa…Ee…Oo…yang hari-hari ini “mengundang” untuk dinyanyikan, ditarikan kembali oleh mereka yang menonton.