Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam unggahannya di Instagram memuji kerennya Sarinah.

“Karena berani mengubah ruang mobil depan gedung menjadi ruang manusia. Seperti itulah seharusnya semua bangunan publik-komersial di kota. Ruang depan itu janganlah habis untuk drop off dan parkiran. Itu disebutnya “negative space”,” ungkap sosok Gubernur berlatar belakang arsitek ini.

Menurut mantan Wali Kota Bandung ini, manusia bergerak sesuai desain wadahnya. Ada wadahnya ia berkegiatan, tidak ada wadahnya ia hilang bersembunyi di ruang-ruang ber-AC yang tidak demokratis.

Sosok yang akrab dipanggil Emil ini menyarankan agar sirkulasi mobil ditempatkan di basement, serta jika mau drop off bisa ditempatkan ke samping saja.

Ridwan Kamil juga mencontohkan “urban design friendly” lainnya adalah Mall BIP di Bandung. “Bertahan puluhan tahun, gak ada parkir mobil di depan. Bisnisnya aman-aman saja,” jelas pria berkaca mata tersebut.

Masih dari unggahannya di Instagram, setelah membahas bangunan kota komersial, Ridwan Kamil membahas urban design theory lainnya yakni trotoar. Menurutnya penting bagi para kepala daerah memperbaiki kualitas kehidupan kotanya, sesederhana memperbaiki trotoar sehingga nyaman, apalagi trotoar yang ada ruang usaha/retail/cafe/warung di lantai dasarnya.

Merujuk perkataan Jane Jacobs terjadi fenomena positif yaitu budaya “eyes on the street”, yaitu saling jaga. Secara visual pegawai toko menjaga para pejalan kaki. Dan pejalan kaki secara visual juga menjaga toko-tokonya juga.

“Ruang publik terbesar dan terpenting itu bukanlah alun-alun tapi trotoar yang lebar. Great city is a walkable city,” terang Ridwan Kamil. Sementara itu di harian Kompas edisi Minggu (31/7/2022) mengungkap bangunan bertingkat sudah menjadi bagian dari kota-kota Eropa selama ratusan tahun. Kombinasi penduduk sedikit, wilayah luas, banyak bangunan bertingkat, memungkinkan kota Krakow di Polandia sebagai contoh dan banyak kota lain di Eropa meningkatkan ketersediaan ruang terbuka.