Anak Belajar Menghadapi Konflik Dalam Permainan
Arfianingrum Pujiastuti
Pada akhir pekan kemarin kami sekeluarga pergi ke IKEA di bilangan Cakung, Jakarta Timur. Misi utama adalah mencicipi kuliner, serta memberikan pengalaman berkuliner di sana (yang self service) untuk anak kami. Nyatanya tak hanya itu yang didapatkan, melainkan mengenai konsensus dan konflik yang dialami anak kami yang kini berumur 38 bulan.
Di food court IKEA terdapat tempat bermain bersama bagi anak-anak. Beberapa anak bermain di situ, termasuk anak kami. Ia asyik bermain memutar-mutar mainan yang berbentuk seperti roda. Begitu diputar sejumlah bola-bola ikut bergerak dan turun. Sedang asyik bermain, ada anak lainnya berumur 4 tahun yang nimbrung. Mereka pun bermain bersama. Sesekali anak saya bertukar kata dengan anak tersebut. Kesepakatan didapatkan pada permainan tersebut, semua happy.
Lalu anak saya mencoba permainan menggabung-gabungkan benda di layar monitor. Idenya seperti merakit Lego. Sedang asyik bermain di situ, anak berumur 4 tahun yang tadi kembali nimbrung. Ia ikut mencoba merakit benda di layar tersebut. Kali ini anak saya tak berkenan diganggu ketika sedang asyik-asyiknya bermain. Konflik pun terjadi. Anak saya akhirnya menangis, dan saya pun membawa anak menuju tempat lainnya.
Di IKEA memang tempat yang nyaman untuk anak-anak bereksplorasi. Lalu ada lagi mainan kereta-keretaan. Anak saya anteng bermain di situ. Sesekali dia mengubah susunan kereta, mendorong keretanya. Lalu datanglah anak lainnya dengan umur lebih senior dari anak saya. Ia merasa kesal dengan tindakan anak saya yang mengubah susunan kereta, serta mendorong keretanya. Si anak yang lebih senior itu ingin keretanya berjalan seperti biasa. Tangan anak saya pun dipegang, agar tak mengutak-atik kereta tersebut. Alhasil konflik kembali terjadi. Saya pun akhirnya membawa anak saya untuk melihat hal lainnya.
Berkonflik merupakan hal yang lumrah, lazim, dan everlasting. Bagi anak, ia perlu belajar tentang hal tersebut. Maka hal-hal semacam itu merupakan bentuk latihan bagi anak, di antaranya untuk mengelola emosinya, merasakan kecewa, kegembiraan bermain bersama, dan sebagainya. Anak perlu mengalami hal-hal tersebut. Dalam hal ini kita-kita yang senior perlu untuk bersabar dan mengambil jarak, ketika dirasa sudah saatnya mengintervensi, barulah lakukan.