Amirhadi Diterbitkan 11 August 2022

Puisi tidak dihargai Muhammad Amir Hadi Mahrizal

Selamat membaca puisi aku ya. Insya-Allah best. hehe.

Kautahu? Oh, perempuanku – sebenarnya aku lebih keliru denganmu yang selalu mengambil alih kerja bulan, memantulkan cinta lalu aku menjadi mangsa. Sejak itu, aku sering membenci mataku sendiri kerana selalu saja menangkapmu di dalam kelopaknya dan memenjarakanmu di dalam hatiku, lalu terpateri sebagai haiku.

Di hadapanku, kaumenjelma hakikat yang terpancar sebagai perempuan sepi. Rambutmu dikusut angin. Tetapi, aku tidak selalu membilangmu kudus, sebaliknya lebih curiga, ketika kaumenyimpan matahari di dalam saku.

Padamkanlah lampu harapan yang menyala-nyala, seraya harapan memandang mataku dengan lebih terkesima. Terakhir, tanganmu terus tidak dihargaiku, menyulam peristiwa-peristiwa palsu.