Arifin Diterbitkan 13 January 2023

Kala Anak Bersentuhan Dengan Pekerjaan Dapur 

Pada akhir pekan mendatang anak kami yang berumur 44 bulan akan mengikuti Pizza Maker Junior yang dihelat Pizza Hut. Sebelumnya saya dan istri pernah melihat langsung Pizza Maker Junior ini. Hal yang semakin meyakinkan serunya kegiatan ini.  

Unit analisa dalam kepala saya pun bekerja, pembuatan piza untuk pangsa pasar anak-anak ini merupakan langkah cergas sekaligus diversifikasi kegiatan yang dapat dilakukan di restoran. Secara hitung-hitungan ekonomi, menurut hemat saya restoran mendapatkan revenue (early bird Pizza Maker Junior sebesar Rp89.000, sedangkan reguler tiket sebesar Rp110.000). Pemasukan lainnya yang teramat mungkin didapatkan yakni dari keluarga sang anak yang lazimnya akan ikut makan di restoran tersebut.

Apa yang menyebabkan pilihan seseorang pada restoran tertentu? Selain pertimbangan rasional, ada sisi emosional juga. Maka Pizza Maker Junior ini dapat menimbulkan keterkaitan baik orang tua maupun anak dengan restoran. “Eh seru ya waktu itu bikin piza,” – mungkin kalimat itu yang terucap. Pun restoran yang menyelenggarakan pembuatan masakan tertentu untuk anak-anak, dapat berada di top of mind konsumen.

Sementara itu, di sisi lain memasak merupakan salah satu skill yang diperlukan untuk bertahan hidup. Maka mengajarkan anak memasak, berarti melatih anak akan keterampilan tersebut.

Secara sederhana, memasak bisa membantu anak untuk mengembangkan matematika, sains, dan literasi. Bukankah untuk membuat suatu masakan memerlukan komposisi tertentu? Pun begitu dengan pembacaan terhadap cara membuat masakan.

Ketika memasak, anak-anak juga berkesempatan belajar menggunakan benda berisiko, misalnya pisau. Seperti dilansir Tirto, belajar menggunakan pisau berarti belajar keterampilan motorik halus, kemampuan koordinasi mata dan kemampuan tangan, maupun kemampuan bernalar.

Dengan memiliki keterampilan memasak, merupakan bekal untuk berhemat secara anggaran. Apapun kondisi anak nantinya ketika dewasa, dengan skill memasak memungkinkannya untuk mengolah sendiri dari bahan yang ada.

Pun begitu secara gizi dan kebersihan, maka anak yang nantinya akan dewasa ini, memiliki bekal kemampuan melalui memasak untuk mandiri menerapkan gizi seimbang dalam menu masakannya serta memastikan kebersihan kuliner buatannya.