Tetap Aktif Di Usia Lanjut
Arifin
Sebuah kicauan di Twitter dari mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia Emil Salim memantik perhatian. Pada kicauannya yang bertarikh 26 Maret 2023, Emil menuliskan setelah istrinya meninggal dan kesehatannya pribadi mengalami 2 serangan Covid-19, gairah hidupnya mulai kendur. Kicauannya di Twitter terhenti pada Juli 2022. Namun, atas nasihat medis dan desakan keluarga agar kembali aktif seperti sedia kala.
Emil Salim kini berusia 92 tahun, mengingatkan saya pada buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life, penulis Hector Garcia & Francesc Miralles. Pada buku tersebut, mereka yang berusia lanjut tetap aktif beraktivitas, baik itu jalan kaki di sekitar perumahan, bertaman, nyanyi karaoke. Bergerak apa pun bentuknya menjadi kunci hidup panjang bagi komunitas Okinawa.
Di Okinawa tidak terdapat kata pensiun, penduduk berumur menjalani harinya dengan penuh arti dan aktivitas. Mereka merasa penting, dibutuhkan, merasa berkontribusi. Menurut penulis bukunya, pada saat kita menjaga pikiran maupun badan kita untuk selalu aktif dengan penuh arti, otak kita juga terus tumbuh dan revitalisasi.
Masih terkait usia lanjut, salah satu cerita pendek di buku Rumah Tepi Kali karya Dedy Vansophi menghadirkan perenungan tersendiri. Berikut saya kutipkan beberapa bagian yang sekiranya relevan dengan pembahasan di artikel ini:
Setiap orang tua pasti bangga ketika anaknya mandiri. Tapi di antara kebanggaan itu terselip kecemasan kalau-kalau anaknya tak membutuhkan kasih sayangnya lagi.
Aku pernah melakukan kesalahan yang fatal. Bermaksudnya ingin menyenangkan orang tua tapi malah membuatnya sedih.
Saat mau menikah dulu, semua ingin kutangani sendiri. Aku tak ingin merepotkan. Sudah cukuplah kerepotan dan pengorbanan orang tua, sekarang tinggal duduk manis menyaksikan semua.
Diam-diam orang tuaku curhat pada adik-adiknya. Sedih sekali sudah merasa tak diperlukan lagi oleh anaknya. Bagi mereka, kerepotan mengurus anak adalah kodrat orangtua. Itulah bentuk kasih sayang. Mengetahui itu aku pun meralat rencanaku, aku libatkan penuh orangtuaku. Mereka kecapekan tapi bahagia.
Dari situ aku mencatat bahwa yang paling ditakutkan orangtua adalah perasaan tidak dibutuhkan, hilangnya curahan kasih sayang.