Percaya Pada Proses
Arifin
Kebijaksanaan dari apa yang ada di masa lalu sesungguhnya masih relevan di masa kini dan mendatang. Hal tersebut yakni percaya pada proses. Bahwa segala sesuatu ada waktunya. Serta bersabar.
Seperti misalnya pada pewarnaan batik, yang perlu dijemur pada terik matahari. Tentu membutuhkan waktu tertentu. Atau memasak menggunakan kayu, yang memerlukan proses tertentu. Dibutuhkan waktu hingga apinya cukup panas untuk memasak.
Simak juga proses pembuatan dodol betawi yang dikenal rumit. Bahan baku pembuatan yang terdiri dari ketan, gula merah, gula pasir, dan santan harus dimasak di atas tungku dengan kayu bakar selama 8 jam.
Percaya pada proses, segala sesuatu ada waktunya, bersabar – juga dapat diterapkan di kekinian. Misalnya pada konten kreator. Raditya Dika pada titik sekarang ini sesungguhnya telah berproses begitu panjang. Untuk YouTube-nya telah 16 tahun dijalani, terdapat 1.800 video, 2 miliar views lebih, pada deretan tersebut, barulah tercapai 10 juta subscribers di YouTube-nya.
Hal tersebut juga berlaku dalam hal investasi, seperti diperlihatkan pada buku The Psychology of Money. Tahukah Anda, $81,5 miliar dari $84,5 miliar harta Warren Buffett datang sesudah ulang tahunnya yang ke-65.
Dalam buku The Psychology of Money dijelaskan bahwa harta Buffet bukan hanya karena dia investor hebat, melainkan karena dia investor hebat sejak masih anak-anak.
Kunci keberhasilan Buffett yang sebenarnya adalah bahwa dia sudah jadi investor fenomenal selama tiga perempat abad.
Buffett mulai berinvestasi serius ketika berumur 10 tahun. Waktu dia berumur 30, hartanya sudah $1 juta, atau $9,3 juta kalau disesuaikan dengan inflasi.
Pada buku karya Morgan Housel tersebut disebut keahlian Warren Buffett adalah investasi, tapi rahasianya adalah waktu. Begitulah cara kerja penumpukan.
Pun begitu dengan belajar – bukankah lebih baik konsisten, rutin, berkala, dibandingkan sekali jadi dalam waktu yang panjang. Belajar secara berangsur-angsur tersebut lebih dapat diserap otak, menjadi kebiasaan, mengasah keterampilan yang ada.
Terkadang kita sekadar melihat ujungnya, hasilnya, akhirnya – namun lupa dengan waktu yang dibutuhkan, proses yang dikerjakan, serta pentingnya kesabaran.