Kali Kedua Yang Tak Lagi Sama
Arifin
Dalam beberapa kesempatan saya membaca buku yang pernah saya tamatkan, sekali lagi. Ada perasaan, sensasi berbeda ketika membacanya untuk kali kedua. Secara garis besar telah diketahui ceritanya, maka elemen kejutannya relatif telah memudar. Namun, di pembacaan kali kedua, detail-detail yang terlewatkan waktu membaca pertama kali, dapat lebih terdeteksi.
Pengalaman mirip-mirip juga dapat dialami ketika menonton film ataupun serial. Telah terdapat pengetahuan awal dan secara garis besar. Lalu mengapa harus menonton lagi? Dikarenakan serunya film, serial tersebut, serta melihat detail-detail secara lebih presisi. Menonton untuk kali kedua juga dapat lebih santai, lebih berfokus pada apa-apa saja yang terlewatkan.
Baik membaca buku ataupun menonton film, jika berjarak waktunya secara signifikan antara yang pertama dan kedua, teramat mungkin lebih banyak lagi perbedaan sensasi rasa yang didapatkan. Ini dikarenakan diri pun telah mengalami perubahan, pergeseran, ragam pengalaman telah menyertai. Sehingga impresi dari buku atau film tersebut, sepertinya kontekstual dengan pengetahuan serta pengalaman yang lain. Atau malahan setelah berbilang waktu, Anda baru lebih paham mengenai buku serta film tersebut.
Kali kedua di tempat makan tertentu, Anda kembali untuk rasa masakannya, pengalaman makan disana. Bisa jadi pada kali kedua tersebut, sensasinya telah berbeda. Pada beberapa pengalaman, saya menemukan kok rasa masakannya tidak seenak dulu, pengalaman makannya juga tidak seapik dulu. Hal itulah yang mungkin menjelaskan mengapa tempat makan yang telah bertahan dari generasi ke generasi layak diapresiasi. Apakah Anda memiliki tempat makanan yang telah dikunjungi untuk kali kedua, kali ketiga, kali selanjutnya – serta masih begitu oke, baik rasa dan pengalaman makannya?