Keunikan dan kekhasan semakin dihargai serta diapresiasi. Maka tak mengherankan sejumlah film, cita rasa yang mengusung lokal mampu diterima oleh publik yang lebih luas dan beragam.

Seperti pada tayangan YouTube Raditya Dika, dimana mengulas restoran Toba di Inggris. Untuk urusan rasa, si pemiliknya Pino tetap mempertahankan otentiknya rasa, termasuk rasa pedasnya. Hal ini sekaligus menepis anggapan, harus menyesuaikan dengan “lidah lokal”. Penyuka dan pemburu kuliner justru ingin mencari pengalaman rasa yang unik, berbeda.

Di ranah lain, kekhasan lokal juga semakin diterima. Film “Yowis Ben” sebagai contoh, yang banyak menggunakan dialog berbahasa Jawa. Namun, karena isu yang diangkat relevan untuk pangsa pasar universal, di samping itu kekhasan lokal dengan bahasa Jawa tersebut menjadi penambah gurih serunya.

Masih dengan menyertakan bahasa Jawa, terdapat Film Pendek, serta yang teranyar serial dari “Tilik”. Plus poin lainnya yakni menyertakan visual di daerah yang masih permai, serta menarik untuk diketahui sisi sosial seperti keguyubannya.

Sementara itu Film “Ngeri-Ngeri Sedap” juga disambut baik. Bagi penonton luas, mendapatkan perspektif tentang budaya, visual, latar sosial, serta humor ala Sumatra Utara. Tentang merantau dan pulang pun menjadi problematik universal yang dapat diakses berbagai kalangan.

“Rasa lokal” ini jika ditelusuri juga telah ada sejak dulu. Di antaranya tayangan “Si Doel Anak Sekolahan”, yang menampilkan budaya, humor Betawi, stereotipe terhadap orang Betawi, dan sebagainya.