Karena Buku Memang Harus Diceritakan
Arifin
Menarik adanya apa yang dikatakan kreator digital Wahyu Novianto ketika berkesempatan menjadi penjaga buku di pasar buku patjarmerah. Bagaimana sensasi perasaan yang dirasakannya saat mengajak mengobrol para pengunjung.
“Berbeda dengan kudapan yang lebih mudah terbayang rasanya atau baju yang bisa kamu lihat modelnya, buku tidak bisa hanya dipajang begitu saja. Dengan dibicarakan, orang jadi tahu, bisa terhubung dengan jenis buku yang biasa disuka, atau malah jadi mencoba hal-hal baru,” tutur Wahyu di akun Instagram-nya @awaywithbooks.
Bertemu dengan penjaga buku, yang tahu tentang buku-buku, mengajak ngobrol, lalu memberikan rekomendasi merupakan pengalaman berbelanja buku yang unik. Ada nilai keterikatan yang lebih jika itu terjadi.
Hal semacam itu yang dipotret dalam film “You’ve Got Mail”. Rasa kehangatan antara pembeli dan penjaga buku, serta buku yang diceritakan.
Apakah Anda pernah memiliki pengalaman “buku yang diceritakan” dari penjaga buku? Saya pernah punya pengalaman itu. Ketika masih menjadi mahasiswa, toko buku sederhana itu, dimana penjaganya mengajak ngobrol, memberikan selayang pandang tentang isi buku, memberikan rekomendasi. Dan memang rasanya berbeda, ketika buku itu diceritakan.
Memang di sisi lain, hal itu membuat saya dari sisi konsumen menjadi membeli, membeli buku lagi. Namun, kebutuhan berkomunikasi, bercerita, kebutuhan yang sifatnya personal, mampu diwadahi oleh penjaga buku yang menceritakan buku.
Buku yang diceritakan – itulah kiranya yang membuat mendongeng, read aloud, storytelling – menjadi hal yang menarik. Tak hanya bagi anak-anak yang butuh itu untuk menyuburkan minat, semangat membacanya. Namun, juga bagi mereka-mereka yang telah berumur, karena bercerita merupakan kebutuhan dasar dari manusia.