Carian
Menikmati Kekalahan & Kemenangan 
June 12, 2023 Arifin

Kompetisi, perlombaan, pada beberapa aspek orang membutuhkan hal tersebut. Apa jadinya jika olahragawan hanya berlatih, berlatih, dan berlatih saja lalu tidak dikompetisikan? Apa jadinya jika pelajar hanya belajar, belajar, dan belajar saja, namun tidak diuji?

Memaknai kompetisi, perlombaan, tak sekadar menang-kalah. Melainkan bagaimana usaha manusia. Memfokuskan waktu, konsentrasi, tenaga, pikiran, untuk berupaya sekuat daya. Soal hasil, di suatu hari Anda bisa kalah, di hari lainnya Anda bisa menang.

Berjuanglah terus. Kerahkan usaha dan doa. Pada akhirnya, hasil dari kompetisi, perlombaan, ada bagian yang sesungguhnya di luar kendali kita. Yang dapat kita kendalikan yakni sikap, usaha, doa yang senantiasa dipanjatkan.

Terdapat istilah “menang banyak orang tuanya, kalah yatim piatu”. Ya ketika berhasil sebagai pemenang, “magnet” lainnya akan mengikuti. Sedangkan ketika kalah, bisa jadi perasaan terpuruk muncul, serta ada perasaan ditinggal, serta segala tone kurang bersahabat lainnya. Namun, di situlah sebagai kawah candradimuka kesempatan untuk mengukuhkan karakter.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi.

Kekalahan memang dapat menghadirkan kesedihan. Meski begitu apa yang diungkap penyair Jalaluddin Rumi berikut dapat menjadi perenungan: “Kesedihan menyiapkanmu untuk kegembiraan. Dia menyapu bersih semuanya dari rumahmu sehingga kegembiraan baru dapat memasuki ruang. Dia menggugurkan dedaunan yang menguning dari dahan hatimu, agar dedaunan hijau dan segar dapat tumbuh di tempatnya. Dia mencabut akar yang busuk, agar akar baru yang tersembunyi di baliknya punya ruang untuk tumbuh. Kesedihan apa pun yang luruh dari hatimu, hal-hal yang jauh lebih baik akan mengambil alih tempatnya.” 

Komen