Carian
Mari Mendengar Dengan Saksama 
June 15, 2023 Arifin

Orang tua, orang muda, anak-anak – siapa yang tidak tertarik untuk didengarkan ceritanya, pendapatnya, pandangannya? Setiap lapis umur akan senang, bahagia, kiranya didengarkan. Namun, acapkali diri, kita, lebih senang berharap orang lain mendengarkan apa yang kita mau, serta abai dalam mendengarkan dengan saksama.

Mendengarkan dengan saksama, hal tersebut dapat diupayakan dan dilatih terus-menerus. Misalnya ketika sedang makan bersama, seseorang dapat fokus mendengarkan apa yang didengarkan oleh orang yang bicara. Jika ingin mengecek ponsel, dapat meminta izin dulu sebentar, lalu ketika sudah, kembali fokus mengobrol di meja makan.

Intinya yakni menyingkirkan gangguan dan memfokuskan perhatian. Hadir seutuhnya kala mendengarkan. Dengan begitu seseorang selain mendengarkan apa yang dibicarakan, dapat pula mengamati petunjuk nonverbal, seperti ekspresi dan postur. Karena terkadang apa yang tersirat tersebut dapat menceritakan secara lebih jernih dan jujur.

Dengan menilik petunjuk nonverbal tersebut, seseorang dapat lebih memahami emosi dan perasaan orang lain. Di samping itu, mendengar dengan saksama, bak trampolin, yang dapat memberikan umpan balik.

Untuk mengklarifikasi umpan balik yang tepat, si pendengar dapat mengajukan pertanyaan untuk mempertegas, memperjelas warta. Dengan begitu, maka umpan balik yang diberikan dapat lebih utuh.

Apakah umpan balik harus berupa kalimat, tindakan, atau cukup dengan mendengar saja? Hal tersebut berpulang dari si pencerita. Ada yang lebih plong, ketika lawan bicaranya sekadar mendengarkan dengan saksama saja, cukup dengan telinga yang mendengar – ibaratnya bagai menampung curhatan saja.

Ada yang berharap tanggapan, entah itu saran, perspektif, dan sebagainya. Intinya siapa pun itu, dari lapis umur berapa pun – mereka ingin didengarkan, mereka perlu untuk berkomunikasi, didengarkan curahan hatinya, kegelisahannya, harapannya.

Komen