Memberi Tenggat Pada Diri
Arifin
‘Suatu hari nanti saya akan membuat novel yang keren, mengguncang pembaca dan penggemar sastra,’ apakah azam tersebut pernah terlontar di benak Anda? Pada salah satu pelatihan penulisan yang pernah saya ikuti, penulis Dewi Lestari memberi tip untuk merampungkan tulisan. Di antaranya dengan memancangkan target secara jelas kapan kiranya tulisan tersebut selesai.
Memberi tenggat pada diri, hal tersebut laik menjadi tip, kiat, untuk mengiringi langkah kreativitas seseorang. Mengapa perlu memberi tenggat pada diri? Dengan begitu ada perencanaan, jadwal, untuk menyelesaikan karya kreatif.
Bukankah waktu dapat begitu cepat berlalu? Seperti tahun ini, yang wah sudah bulan Juni saja. Pun begitu dengan karya kreatif Anda, jika dilepaskan, let it be, bisa menjadi terbengkalai, teronggok, tak terselesaikan.
Dengan memberi tenggat pada diri, dapat memicu dan memacu kreativitas. Misalnya, Anda merencanakan membuat novel sebanyak 365 halaman. Bisa dengan merancang satu hari berupaya merampungkan satu halaman. Dengan kondisi apapun, berusaha untuk melakukan hal tersebut, menulis satu hari-satu halaman.
Dengan tenggat dapat terukur sudah sejauhmana, sudah sampai mana, apa yang dapat dievaluasi, apa yang dapat diperbaiki. Dari bulan, pekan, harian, jam, dapat dicacah ataupun ditelusuri, apa yang bisa dilakukan agar karya kreatif tersebut dapat selesai sebaik mungkin pada waktu tenggatnya.
Tenggat juga dapat menjadi cara untuk mengatasi kebiasaan menunda. Dengan adanya tenggat, bisa jadi ada saat-saat tertentu, dimana “gas”, fokus benar-benar lebih mampu dihadirkan, karena telah semakin dekat ke waktu tenggat.
Waktu tenggat tersebut, juga bisa dibagikan ke teman, keluarga, dengan begitu mereka dapat ikut mengontrol, mengingatkan, memotivasi, agar karya kreatif dapat rampung.