Secangkir Hangat Dicelup Hujan
Arifin
Kota dipeluk hujan pagi ini
Di jendela, runcing air mengetuk-ngetuk
Sini saja di balik selimut
Hangat terjaga
Inginku, tapi tidak begitu akhirnya
Di jalan, becek, genangan, menampung air dari langit
Genangan, kenangan
Motor, mobil
Ada yang bergegas, seolah tak mau kendaraannya berlama-lama bercakap-cakap dengan hujan
Ada yang lebih perlahan, entah karena jalanan licin,
Atau ada kenangan, imajinasi yang mumbul di beranda kepala
Pejalan kaki?
Berteduh dimana-mana
Sibuk dengan ponselnya,
Mempreteli ingatan bersama hujan,
Berpayung benar atau berpayung tangan,
Sepatu yang basah di trotoar yang separuh rapi, separuh raib
Hujan Bulan Juni, kata Sapardi
Hujan Bulan November, kata GNR
Hujan, saat kau menghangatkan dirimu, dengan minuman-makanan mengepul, pakaian lebih
Hujan dan kata-kata yang menguap & meluap
Di balik dinginnya kau “dihangatkan”,
Entah oleh curahnya yang membasuh jengkal tubuhmu,
Merayakan air, keriaan masa kecilmu, Ataupun lamunan & ingatan yang bermekaran di kala hujan