Mengakrabi Buku Dimana Saja
Arifin
Membaca buku dapat menjadi bagian dari gaya hidup keseharian. Soal waktu membaca dapat ditata. Misalnya sehari minimal 20 menit. Lima menit setiap pagi, siang, sore, malam. Jika disiplin, nanti pelan-pelan akan terbiasa dan jadi kebiasaan.
Untuk tempat membaca, bisa dilakukan di rumah, perpustakaan, kafe, sarana transportasi publik, taman, dan lain sebagainya. Hal tersebut seiring semakin mudahnya akses bahan bacaan. Bisa dengan membaca buku secara fisik, e-book, ataupun membaca buku yang tersedia di tempat-tempat publik.
Di beberapa kafe, tak hanya menyediakan penganan, melainkan juga mengajak pengunjungnya untuk berbetah-betah disana dengan pilihan buku yang ada. Pun begitu dengan beberapa sarana transportasi publik, di haltenya terdapat pojok baca, yang memungkinkan penggunanya untuk menepi dan membaca. Secara personal saya pernah membaca buku di halte MRT Bundaran Hotel Indonesia.
Di sejumlah taman, di antaranya melalui inisiasi Bookhive, terdapat kotak buku, dimana pengunjungnya dapat menggunakan koleksi disitu, serta membacanya. Sembari piknik di taman, berteman buku, merupakan ide yang baik.
Sementara itu mengakrabi buku juga dapat digunakan sebagai sarana pengembangan diri. Dari cita-cita yang hendak seseorang tuju, buku dapat menjadi partnernya dengan memberikan informasi, pengalaman pelakunya, dan sebagainya.
Membaca buku juga dapat menjadi relaksasi. Di antaranya cobalah sesekali melintasi genre yang Anda sukai, lazim baca. Bacalah sesekali buku yang di genre yang tak akrab dalam daftar baca Anda, maka bisa jadi genre tersebut malahan menjadi daya tarik baru, atau paling tidak memberikan perspektif pengetahuan dari sudut yang berbeda.
Kegemaran membaca buku juga dapat dilantangkan dengan berbagi bacaan, impresi di laman media sosial Anda. Hitung-hitung sebagai catatan, kenangan, pernah membaca buku tertentu. Siapa tahu pula dapat memperluas jaring persahabatan, serta komunikasi dengan sesama pembaca buku.