Carian
Filosofi Memperbaiki Barang 
July 5, 2023 Arifin

Dalam semesta Harry Potter terdapat Arthur Weasley yang senang mengutak-ngatik, membongkar, memperbaiki barang-barang Muggle. Apakah Anda tipikal seperti Arthur Weasley yang senang memperbaiki barang?

Memperbaiki barang ternyata dapat bertaut dengan aneka konsep. Di antaranya menghemat bujet. Jika kerusakannya kecil, serta dapat diperbaiki sendiri, tentu akan menghemat anggaran.

Filosofi memperbaiki, semenjak kerusakannya baru terasa juga dapat menjadi keterampilan, sikap yang tepat untuk mengarungi hidup. Filosofinya jika barang itu rusak, baiknya segera diperbaiki, karena dapat diibaratkan bak penyakit, yang dapat menyebar kemana-mana.

Konsep mengkreasi dengan memperbaiki menurut hemat saya dapat diajarkan pada anak sejak dini. Di antaranya dengan mengenalkan mereka pada Lego. Pada Lego terdapat bongkar-pasang, yang memungkinkan ananda untuk membuat aneka kreasi, memperbaiki bangunan di Lego dengan memasang menggunakan blok yang ada. Jika bangunan, kendaraan di Lego terberai, terurai, maka ananda dapat “memperbaikinya” dengan blok yang tersedia ataupun menghasilkan kreasi yang berbeda.

Pentingnya memperbaiki juga dapat dikaitkan dengan lingkungan. Jika baru rusak sedikit, telah dibuang – bayangkan jika itu dilakukan oleh banyak orang. Maka akan bertumpuklah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Maka seseorang sesungguhnya dapat mengurangi kemungkinan sampah, dengan memperbaikinya (tentu jika masih memungkinkan). Baik itu sepatu, baju, celana, dan sebagainya – yang jika diperbaiki, ternyata masih dapat optimal digunakan.

Entah mengapa ingatan pun terpatri pada orang-orang senior dengan benang, jarum, memperbaiki sesuatu. Ada pelajaran hidup disana. Ada ketekunan bersama waktu, bersabar, serta kegembiraan jika barangnya dapat digunakan lagi.

Filosofi memperbaiki itu mungkin pula merembes hingga ke sosial, keluarga, persahabatan. Segala tenun bersosial itu dapat terkoyak, goyah karena sesuatu – namun, bukan berarti tak bisa diperbaiki. Ada “banyak pintu”, ragam cara untuk memulai memperbaiki itu, pertanyaannya sudikah kita menempuh jalan memperbaiki itu? 

Komen