Membiasakan Pertanyaan Terbuka
Arifin
Akhir pekan lalu kami sekeluarga mengikuti Suka Cita Perayaan Hari Anak Nasional di Tebet Eco Park yang dihelat Indonesia Mengajar dan Ayo Ke Taman. Kami mengikuti sesi aktivasi bersama Domikado dan sesi aktivitas bersama Rumah Mainstream.
Menarik adanya kala beraktivitas bersama Rumah Mainstream. Ananda diajak melalui alat sederhana untuk memaknai STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics). Serunya bagaimana instruktur mengajukan pertanyaan terbuka, yang memungkinkan anak menjawab dengan ragam jawaban.
Aktivitas sederhana dilakukan, berbekal sedotan dan kertas. Dari kedua alat itu, anak diminta untuk mencari cara agar kertas dapat melontar, terbang. Dalam langkah-langkahnya, tanya jawab interaktif dilakukan antara instruktur dengan peserta anak-anak.
Anak-anak pun aktif menjawab dengan berbagai kemungkinan. Tak ada jawaban yang disalahkan, melainkan diterima dengan “tangan terbuka”.
Pertanyaan terbuka yang memberikan kemungkinan aneka jawaban, hal tersebut kiranya berguna baik itu sebagai bekal anak ataupun untuk siapa saja. Pada beberapa hal, mungkin karena pola pendidikan, terbiasa untuk hanya memiliki satu jawaban yang benar. Hal ini karena sejak dini, pola pertanyaan yang diajukan tertutup (bisa juga dengan pola benar atau salah – ya atau tidak), serta dalam menjawab tes adalah pilihan ganda.
Padahal kiranya dalam kehidupan, ada aneka pertanyaan terbuka serta ragam jawaban. Hal tersebut perlu dilatih, dibiasakan. Pertanyaan terbuka serta kemungkinan jawaban yang banyak, di antaranya berguna kala kita mengobrol.
Cobalah ajukan pertanyaan terbuka agar jawaban yang diberikan lawan bicara lebih banyak, tips yang terlihat sederhana, namun dapat membuat obrolan lebih seru dan Anda pun lebih terampil dalam berhubungan sosial.