Yuk, Dengarkan Suara Alam
Arifin
Ada banyak suara yang masuk ke telinga kita dalam keseharian. Bila jenuh, lelah, salah satu metode yang dapat seseorang tempuh untuk merelaksasi yakni dengan mendengarkan suara alam. Hal yang bisa menjadi sulit dan rumit di daerah kota atau bandar.
Di Jakarta, Anda dapat berkunjung ke Tebet Eco Park (TEP), lalu singgahlah ke zona Forest Buffer. Forest Buffer adalah zona yang lebih tenang dimana pengunjung taman dapat berjalan di bawah rindangnya pohon dan menikmati alam sekitar. Signage-signage pohon dan fakta-fakta menarik disediakan untuk mengedukasi pengunjung.
Forest Buffer didesain berdekatan dengan Community Garden sebagai pendukung kegiatan sosial yang lebih santai, dan edukatif. Sementara itu, lokasinya yang diletakkan di sebelah jalan raya yang ramai membantu meredam suara bising kendaraan masuk ke taman.
Suara burung, bahkan penampakan tupai, merupakan hal yang dapat Anda temui di Forest Buffer. Sejenak rehat dari penat dengan ke TEP sepertinya menyehatkan jiwa dan raga.
Masih terkait dengan suara alam, yang merupakan white noise pula. Maka suara alam dapat membantumu untuk tidur lelap serta mengatasi insomnia.
Menurut Sleep Junkies, terdapat tiga jenis white noise, dimana salah satunya yakni suara alam berupa suara hujan, suara air mengalir, dan suara ombak. Jenis lainnya yaitu suara suasana (ambiance), yang juga bisa didapatkan kala mendekat ke alam, berupa suara jangkrik, suara retakan api unggun.
Ingin mendekat dengan suara alam itu dalam keseharian? Seseorang yang berada di kota, bandar dapat menggunakan mesin penghasil white noise yang telah banyak digunakan dan beredar luas di pasaran. Mesin ini sering digunakan untuk membantu beristirahat di malam hari. Selain itu, white noise juga sudah banyak beredar di berbagai platform seperti YouTube dan podcast.
Masih terkait dengan suara alam, untuk membaca dan memahami suara kehidupan di hutan dikenal pendekatan bioakustik.
Seperti dilansir Kompas, pendekatan bioakustik memungkinkan manusia untuk mendengar dan membaca kehidupan di dalam hutan. Metode ini digunakan peneliti di dunia untuk memetakan populasi, mengenal gerak binatang, hingga respons satwa terhadap perubahan iklim.