Portofolio Karya, Rekam Perjalanan & Jejak Eksperimen
Arifin
Istri saya rajin mendokumentasikan segala aktivitas anak, dari perkataan hingga tindakan. Ada yang berbentuk foto, video, serta kata-kata percakapan. Hal tersebut menurutnya ternyata dapat melacak sejauhmana tumbuh kembang anak.
Rumus tersebut sesungguhnya dapat berlaku di berbagai area kreativitas. Telatenkah untuk mengarsipkan portofolio kreativitas? Jika ya, maka hal tersebut merupakan bekal untuk melihat sejauhmana sih progres yang telah dilakukan. Bagaimana jika membandingkan karya-karya awal Anda dengan karya era mutakhir yang dibuat?
Ketika membandingkan, mungkin muncul perasaan dan pikiran – kok dulu begitu betul membuatnya? Namun, di sisi lain bisa juga muncul semangat baru, teringatlah betapa passion-nya ketika awal-awal menapaki jalur kreativitas yang ada. Mungkin secara teknik masih kalah jauh dibanding sekarang, namun ada kenaifan, serta bara semangat disana.
Memiliki portofolio karya juga dapat melihat bagaimana diri merespons zaman. Baik itu tantangannya, perubahan yang terjadi, adaptasi yang dilakukan. Pun begitu dengan referensi. Di masa tertentu, seseorang dapat menjadikan sosok tertentu sebagai referensi. Di masa lainnya, terdapat perubahan gaya serta referensi.
Sejauhmana rentang eksperimen terhadap karya juga dapat ditilik. Jika penulis, telah menulis judul serta tema apa saja sih. Jika pelukis, gaya apa saja yang pernah dicoba, pilihan warna yang telah dilakukan. Dan tentu saja masih banyak contoh kreativitas di bidang lainnya.
Pernah mendengar pernyataan berikut, “Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results”? Dengan melihat portofolio tersebut sekaligus dapat menjadi cermin, apakah yang dilakukan lebih banyak pengulangan demi pengulangan saja? Ataukah sesungguhnya karya kreativitas yang dilakukan begitu beragam, serta ada keberanian untuk melakukan eksperimentasi.
Ya, dikarenakan jika telah terlampau panjang portofolio kreativitas, bisa jadi terjebak pada pola yang itu-itu lagi. Padahal perlu kiranya untuk “bermain”, berkreativitas – tanpa melulu berpikir apa kata orang.