Karena Semua Suka Makanan 

August 21, 2023
Uncategorized

Arifin

Konten apa kiranya yang relatif tanpa resistensi, serta disukai oleh banyak orang? Menurut hemat saya terkait makanan. Maka tak mengherankan sejak dulu hingga kini, berbagai konten terkait makanan menghiasi dari berbagai penjuru.

Di majalah ataupun koran, lazimnya terdapat rubrik mengenai cara membuat makanan tertentu. Di harian Kompas, rubrik tersebut terdapat di “Dapur Kita” yang hadir setiap hari Minggu. Di televisi, aneka konten terkait makanan bertebaran. Bagi generasi 90-an tentu mengenal Rudy Choirudin yang terampil di dapur. Di era kini, pesona makan di tempat tertentu ataupun kompetisi untuk menjadi “chef” menjadi tontonan yang mewarnai layar kaca.

Menyertakan makanan pada konten media sosial pun dilakukan juga oleh para politikus. Seperti makan di tempat yang merakyat, unik, atau sekadar memberikan tutorial cara memasak kuliner tertentu. Engagement bisa didapat, di samping itu lini kuliner, seharusnya tak terlampau tajam jadi bahan perdebatan atau kampanye negatif.

Tertarik menulis? Anda pun dapat menyertakan terkait makanan dalam tulisan. Tak harus menjadi “bahan utama”, melainkan disertakan, sebagai elemen yang kiranya dapat diterima secara universal.

Penulis Ika Natassa contohnya, menyertakan sejumlah kuliner berikut dalam novelnya: Ketoprak Ciragil, Popcorn Cinema XXI, Bubur Ayam Salim di Jalan Sudirman, Kantin RSPI, Batagor Riri Bandung, Nasi Goreng Sabang, Beard Papa’s. Dapatkah Anda menerka di novel mana saja aneka kuliner tersebut muncul?

Lalu, mau contoh langsungnya bagaimana kuliner berperan dalam membangun cerita? Detail dari Nasi Uduk Babe Rahman dideskripsikan Ika Natassa dengan rinci serta begitu blend dengan kebutuhan cerita. Mulai dari tempatnya yang berada di gang, tempatnya agak becek ketika hujan, serta simaklah paduan yang membuat ngiler ingin mencicipi nasi uduk, serta begitu menyatunya dengan bangunan cerita sebagai berikut (“Heartbreak MOTEL”, halaman 182): Sandal yang sama yang sedang kupandangi sambil senyum-senyum sendiri, menit ini, di kamar hotelku, setelah dua belas bungkus kecil nasi uduk—dia delapan, aku empat, tiga potong ayam goreng, satu porsi ati ampela yang kami bagi berdua, sepiring bawang goreng ekstra, dua bungkus kerupuk kampung, dan hampir dua jam obrolan, cerita, sesekali tawa termasuk dalam perjalanan pulang kami yang agak tersendat macet karena hujan.

Ya, makanan ternyata tidak hanya menjadi kebutuhan dasar hidup manusia, tetapi juga simbol estetika, gaya hidup, budaya. Karena semua suka makanan, ya Anda, ya saya, ya kita.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd