Carian
Ingin Membiasakan Hal Baru? Temukan Role Model & Teruslah Terpapar 
August 23, 2023 Arifin

Ketika saya mau membeli barang di warung kemarin malam, terlihat mengerubungi orang-orang. Rupanya sedang terjadi duel catur yang menarik perhatian banyak orang. Saya pun terpantik ingatannya akan serial The Queen’s Gambit serta novel Maryamah Karpov. Ketika catur telah membudaya, dimainkan banyak orang, diminati, serta menjadi keseharian.

Hal semacam itu sesungguhnya dapat berlaku dalam banyak hal. Terdapat peran dari lingkungan yang membentuk seseorang. Beberapa waktu yang lalu, saya mencukur rambut. Iseng-iseng saya tanyakan mengenai asal daerah si pencukur. Ia berasal dari Garut. Lalu saya bertanya mengapa begitu banyak tukang pangkas rambut asalnya dari Garut?

Ia menjelaskan tentang nama wilayah di Garut yang banyak menjadi asal para tukang pangkas rambut tersebut. “Diaspora” pencukur rambut dari Garut juga disebabkan ketika mudik Lebaran, mereka membawa hasil dan terlihat perbaikan ekonominya. Hal tersebut tentu menjadi inspirasi untuk turut mengikuti jejak langkah mereka-mereka yang merantau tersebut.

Baik dari contoh kasus catur serta tukang pangkas rambut tersebut, terlihatlah bagaimana lingkungan membentuk seseorang, serta turut menentukan pilihan yang diambil. Maka lazim dikenal istilah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Orang tua dan anak bisa menempuh profesi yang identik, dikarenakan pembiasaan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya sejak dini. Anak menjadikan orang tua sebagai role model. Di samping itu, anak telah rutin terpapar konten, pengetahuan terkait profesi orang tuanya.

Role model serta keterpaparan – dua kata tersebut layak digarisbawahi. Pun begitu dengan segala aktivitas positif serta pembiasaan yang ingin dilakukan. Hadirkan role model serta paparkan saja. Contohnya bila ingin menjadi penulis andal, baca karya para penulis yang layak menjadi referensi. Ikuti media sosial mereka. Teruslah memaparkan diri dengan ragam konten literasi.

Contoh lainnya bila ingin rutin berolahraga; datang saja ke tempat-tempat olahraga. Tak sekadar ide (yang pupus di tengah jalan), atau keinginan (yang tak direalisasikan). Di tempat olahraga itu, lazimnya terdapat role model – entah itu atlet, mereka yang rajin berlatih. Dalam hal ini jika mengambil contoh personal, saya melihat role model pada mereka yang kerap berlatih di gelanggang olahraga. Sembari mengantarkan anak yang sekolah atletik, para role model tersebut, dengan postur yang tegap, kecerdasan kinestetik yang terlihat.

Untuk perkara keterpaparan, paparkan saja terus aktivitas positif serta pembiasaan yang ingin dilakukan. Bukankah bisa karena terbiasa? Bukankah akhirnya tergerak, mau melakukan, karena telah akrab dan intens dihadapi?

Komen