Berpagut Waktu
Arifin
Kita kehabisan waktu
Butir-butir pasir yang tersebar dari genggaman
Detak detik yang seolah memburumu
Di bandar, waktu bergulir lekas
Rasanya belum ini-itu, telah senja, lalu malam menjelang
Si manusia kota singgah ke desa itu
Dimana waktu tak mengejarmu
Air yang mengalir
Suara tenang api dari nyala obor
Kayuh sepeda
Benak si manusia kota yang terbiasa sat, set, sat, set, rehat, bertransformasi sejenak
Terbiasa degup bersama waktu, lalu melambat, seolah membiarkan saja titik-titik waktu turun seiring gerimis
Pertanyaan-pertanyaan eksistensial membanjur kepala
‘Apa yang kau cari?’
Sejenak vakansi dan pertanyaan yang sesekali bertamu di beranda pikiranmu
Dari balik kaca jendela kereta senja, kau memeluk waktu
Merayakan kini, saat-saat ini